Tampilkan postingan dengan label Flash Story. Tampilkan semua postingan

BISUMU TANPA ALASAN


Delapan puluh kilometer kutempuh. Melaju dengan mesin renta berkecepatan 60 km/jam. Di bawah terik surya menggarang, hingar bingar lalu lintas hari itu tak membuatku surut untuk tetap menemuimu. Mendapatkan kejelasan tentang rindu mana yang bisa aku eja. Agar aku mengerti bahwa cinta kita dapat bersatu. Seperti janjimu seminggu lalu.

Kusangka rinduku dan rindumu manis dan mekar harum semerbak, namun kudapati kepahitan dan layu sebelum berkembang.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan diantara kita,” jawabmu tanpa kutemukan senyuman seperti dulu.

“Kenapa?” lekukan pipi berubah menjadi aliran airmata, kemudian jatuh tanpa genangan.

Tanpa jawaban, kau lenyap dalam pandangan. Menjauh dariku secepat mungkin. Hanya punggungmu yang kian tampak bertulang berucap selamat tinggal.

Sampai kini, sejarah kita berakhir dengan airmata. Begitu singkatnya pertemuan, tanpa pertengkaran. Bisumu tanpa alasan.

#Theme Song : Haruskah Berakhir - Ridho Rhoma & Sonet Band
Selasa, 10 Maret 2015
Posted by Zilian Zahra

Ketika Persahabatan Nyata


“Tinggalkan aku, Lin.”

“Gila lu ya? Sampai kapanpun gue nggak akan ninggalin elu”

“Ta ta tapi kamu tahu penyakitku sekarang kan? Aku takut kamu tertular dengan penyakitku.”

“Gue tetep nggak akan ninggalin elu, Fer. Sama persis saat elu nemenin gue sembuh dari kecanduan.”

“Sudahlah, Lin. Jangan ingat-ingat lagi hal itu. Penyakitmu bisa sembuh, tapi dokter menvonis kalo umurku sudah nggak lama lagi.”

“Fer! Pandang gue”

“Jangan dekati aku, Lin”

“Pandang mata gue! Apapun yang elu rasain, elu kudu semangat buat sembuh. Gue nggak ingin hidup lu sia-sia”

“Aku nggak kuat, Lin. Virus ini sudah bersarang di tubuhku.”

“Gue yakin elu pasti kuat, Fer. Gue selalu ngedukung elu.”

“Makasih ya, Lin.”

Keberadaanku disini sudah mulai terancam. Tempat persembunyianku telah dicium oleh dia. Semua rasa berkecamuk, kamu pasti tahu bagaimana rasanya jika sedang terancam? Sama seperti perasaanku sekarang.



Rabu, 20 Februari 2013
Posted by Zilian Zahra

Lelaki Tua dan Isteri Terakhirnya


“Juangkrikkk! Anak siapa lagi yang ada dalam perutmu!” Di depan wanita itu, lelaki tua dengan kreteknya di jari membuang ludah. Wanita cantik itu berbadan ramping, kulitnya sawo matang dan berambut panjang. Usianya masih duapuluhan tahun, selisih tigapuluh tahun dengan lelaki tua itu. Dibanding dengan ke tujuh istrinya yang lain, wanita ini paling muda dan paling cantik.

“Untuk apa kau tanyakan itu? Apa kau masih mampu memuaskanku?” wanita itu berlalu. Ia mengambil rokok dari dalam tasnya, kemudian menyulutnya.

“Justeru kau yang seharusnya memuaskanku, tengik!” lelaki tua itu bangkit dari kursinya. Mukanya memerah. Kretek yang tinggal separuh, ia banting. Tepat mengenai lantai depan wanita itu melepas hak tingginya.

“Untuk apa keenam istrimu? Mengapa selalu saja aku yang kau tuntut?” dihadapan lelaki itu, wanita berdiri. Asap rokoknya sesekali menghalangi wajah kedua orang tersebut.

“Bangsat! Wanita Keparat!” Ujung runcing keris di genggaman lelaki itu diarahkan pada perut wanita itu.

“Jjjangannn! Ini anakmu, darah dagingmu sendiri. Apa kau tega?” dari muka wanita itu, keringat dingin mulai tampak.

“Benarkah ini anakku?” suara lelaki itu melemah. Di tempatnya keris di genggaman dikembalikan. Perlahan lelaki itu mendekat. Perut wanita yang membuncit, dielus-elusnya. “Aku tidak percaya! Tiga bulan kau tak melayaniku” lelaki itu kembali garang.

“Kau perlu bukti apa, sayang? Mari kita ke dalam” keringat dingin membuncah, menahan gemetar dalam raga.

“Tipu daya apalagi yang kau gunakan, tengik! Rayuanmu sudah tak mampu lagi meluluhkan hatiku. Hahaha. Kau pilih jujur atau ajur?!” lelaki itu kembali menodongkan keris. Kini di leher wanita itu.

“Yakinlah, sayang. Aku mengandung darah dagingmu. Jika masih tak kau percayai. Lihatlah tanda yang kau tinggalkan tiga bulan yang lalu.” Lelaki itu kembali luluh.

“Aaaaaa..... Ampuuunnnn....” suara teriakan wanita itu terdengar sesaat, lalu hening. Lelaki tua keluar, tidak lama setelah suara itu lenyap. Tangannya berlumuran darah. Di tangannya daging tanpa nyawa ia tenteng. Lelaki itu pergi dengan airmata.

November 2012


Selasa, 05 Februari 2013
Posted by Zilian Zahra

Popular Post

- Copyright © Catatan Zilian Zahra -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -