Tampilkan postingan dengan label Flash Story. Tampilkan semua postingan
BISUMU TANPA ALASAN
Delapan puluh kilometer kutempuh. Melaju dengan mesin renta berkecepatan 60 km/jam. Di bawah terik surya menggarang, hingar bingar lalu lintas hari itu tak membuatku surut untuk tetap menemuimu. Mendapatkan kejelasan tentang rindu mana yang bisa aku eja. Agar aku mengerti bahwa cinta kita dapat bersatu. Seperti janjimu seminggu lalu.
Kusangka rinduku dan rindumu manis dan mekar harum semerbak,
namun kudapati kepahitan dan layu sebelum berkembang.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan diantara kita,” jawabmu
tanpa kutemukan senyuman seperti dulu.
“Kenapa?” lekukan pipi berubah menjadi aliran airmata,
kemudian jatuh tanpa genangan.
Tanpa jawaban, kau lenyap dalam pandangan. Menjauh dariku
secepat mungkin. Hanya punggungmu yang kian tampak bertulang berucap selamat
tinggal.
Sampai kini, sejarah kita berakhir dengan airmata. Begitu singkatnya
pertemuan, tanpa pertengkaran. Bisumu tanpa alasan.
#Theme Song : Haruskah Berakhir - Ridho Rhoma & Sonet Band
Ketika Persahabatan Nyata
“Tinggalkan aku, Lin.”
“Gila lu ya? Sampai kapanpun gue
nggak akan ninggalin elu”
“Ta ta tapi kamu tahu penyakitku
sekarang kan? Aku takut kamu tertular dengan penyakitku.”
“Gue tetep nggak akan ninggalin
elu, Fer. Sama persis saat elu nemenin gue sembuh dari kecanduan.”
“Sudahlah, Lin. Jangan
ingat-ingat lagi hal itu. Penyakitmu bisa sembuh, tapi dokter menvonis kalo
umurku sudah nggak lama lagi.”
“Fer! Pandang gue”
“Jangan dekati aku, Lin”
“Pandang mata gue! Apapun yang
elu rasain, elu kudu semangat buat sembuh. Gue nggak ingin hidup lu sia-sia”
“Aku nggak kuat, Lin. Virus ini
sudah bersarang di tubuhku.”
“Gue yakin elu pasti kuat, Fer.
Gue selalu ngedukung elu.”
“Makasih ya, Lin.”
Keberadaanku disini sudah mulai terancam. Tempat persembunyianku telah dicium oleh dia. Semua rasa berkecamuk, kamu pasti tahu bagaimana rasanya jika sedang terancam? Sama seperti perasaanku sekarang.
Lelaki Tua dan Isteri Terakhirnya
“Juangkrikkk! Anak siapa lagi
yang ada dalam perutmu!” Di depan wanita itu, lelaki tua dengan kreteknya di
jari membuang ludah. Wanita cantik itu berbadan ramping, kulitnya sawo matang
dan berambut panjang. Usianya masih duapuluhan tahun, selisih tigapuluh tahun
dengan lelaki tua itu. Dibanding dengan ke tujuh istrinya yang lain, wanita ini
paling muda dan paling cantik.
“Untuk apa kau tanyakan itu? Apa
kau masih mampu memuaskanku?” wanita itu berlalu. Ia mengambil rokok dari dalam
tasnya, kemudian menyulutnya.
“Justeru kau yang seharusnya
memuaskanku, tengik!” lelaki tua itu bangkit dari kursinya. Mukanya memerah.
Kretek yang tinggal separuh, ia banting. Tepat mengenai lantai depan wanita itu
melepas hak tingginya.
“Untuk apa keenam istrimu?
Mengapa selalu saja aku yang kau tuntut?” dihadapan lelaki itu, wanita berdiri.
Asap rokoknya sesekali menghalangi wajah kedua orang tersebut.
“Bangsat! Wanita Keparat!” Ujung
runcing keris di genggaman lelaki itu diarahkan pada perut wanita itu.
“Jjjangannn! Ini anakmu, darah
dagingmu sendiri. Apa kau tega?” dari muka wanita itu, keringat dingin mulai
tampak.
“Benarkah ini anakku?” suara
lelaki itu melemah. Di tempatnya keris di genggaman dikembalikan. Perlahan
lelaki itu mendekat. Perut wanita yang membuncit, dielus-elusnya. “Aku tidak
percaya! Tiga bulan kau tak melayaniku” lelaki itu kembali garang.
“Kau perlu bukti apa, sayang?
Mari kita ke dalam” keringat dingin membuncah, menahan gemetar dalam raga.
“Tipu daya apalagi yang kau
gunakan, tengik! Rayuanmu sudah tak mampu lagi meluluhkan hatiku. Hahaha. Kau
pilih jujur atau ajur?!” lelaki itu kembali menodongkan keris. Kini di leher
wanita itu.
“Yakinlah, sayang. Aku mengandung
darah dagingmu. Jika masih tak kau percayai. Lihatlah tanda yang kau tinggalkan
tiga bulan yang lalu.” Lelaki itu kembali luluh.
November 2012



