Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

SEKIAN SENJA


Menikmati senja hari ini

Tak hanya sekedar senja biasa 

Bukan pula senja yang renta

Aku yakin! Senja ini milik kita

Ketika badai dan terjangan ombak

                                 -- menyapu kita

dan kamu memilih untuk menyerah

Karena kau berfikir

Aku telah pergi menyelamatkan diri

                                 -- tanpa menolehmu

Padahal aku sedang berjuang

Untuk tetap bernafas

-dan kamu meninggalkanku

dengan sejuta sumpah serapah terlantun


Kemudian kenyataan menjawab

Bahwa aku tidak pernah pergi


Bertahun menyimpan sakit

Pada akhirnya pertemuan terjadi kembali

Pertemuan yang lebih menyakitkan 

Daripada bertahan di tengah ombak dan badai


Seperti isyarat

Bahwa ini senja kita

Aku berharap segera menggelap

Tanpa terang datang

Menyinari kita


-saat sakit semakin menjadi, 09022026

Minggu, 15 Februari 2026
Posted by Zilian Zahra
Tag : ,

JIKA WAKTUNYA TIBA


 Jika waktunya tiba, tanpa rencana dan tanpa aba-aba
Hanya bisa pasrah di panggil untuk "pulang"
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ
Pertanda usai sudah tugas perjalanan di dunia

Jika waktunya tiba, tanpa modal akan celaka
Berharap waktu pulang di tunda
Namun apalah daya
Hanya sesal tak terkira

Bila modal tiada terkira
"Pulang" adalah jalan penjeda
Agar diri siap bersua
Pada Tuhan Maha Segala

Mari para manusia
Janganlah terlena dunia
karena dunia itu fana
Hanya akhirat kekal selamanya

- Gang Enam, 05022026

Kamis, 05 Februari 2026
Posted by Zilian Zahra

CERITA LALU


 Ada cerita lalu

Kini semakin basi melaju

Menjadi kian hangat namun sayu

Adakah yang layu

Dalam hati yang sendu

Namun merindu

Tanpa mengenal waktu

-Denin, 30102023-
Senin, 30 Oktober 2023
Posted by Zilian Zahra
Tag : ,

LENYAP


Aku lenyap
Tanpa kata
Tanpa jejak
Hilang
Terbawa Api

Mimpiku surut
Tak ada daya
Hanya luka
Temaniku dan menyayat
Perih merangsek
Menyusup lewat nadi

[Pesindon1315]
Rabu, 25 Maret 2015
Posted by Zilian Zahra

AKU INI APA



Aku ini apa
Makhluk kecil dungu
Lebih dungu dari kerbau

Aku ini apa
Bersama kumpulan wewangian mekar
Namun aku di dasar, anyir

Aku ini apa
Tak mampu berjalan
pun terbang
Sengatan, lengkingan, ejekan
Kerap menyergap

Aku ini apa
Sepi dan sunyi-pun enggan berkawan

Biarlah
Diri melepuh lebur lenyap
Terbawa angin kalap
Agar aku tahu
Aku ini apa


---
Panjang Wetan, 18 Maret 2015

Rabu, 18 Maret 2015
Posted by Zilian Zahra

Langkah Nestapa

Masih ada semburat cahaya
Bersarang diantara hati yang lara
Merintih namun tak ditemui suara
Menangis tak keluar airmata
Meradang tanpa menerjang kuasa

Kala lambaian tak nampak di mata
Hanya rasa yang mampu bicara
Kukirim edelweis penebus kata
Tak peduli badai merenggut sukma
Dan mayat tergulung nestapa

Asal untuk rembulan ada cahaya
Pasti diterjang pula Sang Gerhana
Karena kasih tak terbatas benua
Langkah mentari pengantar rimba
Hamparan sajak mulai terbaca

Inilah sebaris kasih dalam nada
Diiringi not-not yang mulai menjingga
Beserta hati yang kian di jeda
Dan asmara keemasan yang menua
Biarlah makna menggores asa


Pekalongan, 11 April 2012
Kamis, 12 April 2012
Posted by Zilian Zahra

Mozaik Asmara Kembang Semusim


Di taman ini kembang bermekaran
Menampilkan warna-warni indahnya
Menyuguhkan aroma-aroma kerinduan
Kala itu
Di taman ini aku menikmatimu
Menemanimu saat sayup-sayup hati mendera
Menutup mata kala hitam mencekam
Kala itu
Asmara yang bermekaran
Bak kembang yang bertaburan
Membuat taman smakin menawan
                                                Kala itu
Di taman ini aku merindumu
Aroma khas yang membalutmu
Membuatku ingin selalu bersamamu
Menemanimu saat duka dan candamu
Kini...
Musim tlah berganti
Mozaik itu hanya tinggal kenangan
Bersama mimpiku yang hilang
Namun...
Indahnya tetap kurasa
Aromanya tetap kurindu
Terangmu slalu kutunggu
Oh... kembang semusim

Di taman ini kembang bermekaran
Menampilkan warna-warni indahnya
Menyuguhkan aroma-aroma kerinduan
Kala itu
Di taman ini aku menikmatimu
Menemanimu saat sayup-sayup hati mendera
Menutup mata kala hitam mencekam
Kala itu
Asmara yang bermekaran
Bak kembang yang bertaburan
Membuat taman smakin menawan
                                                Kala itu
Di taman ini aku merindumu
Aroma khas yang membalutmu
Membuatku ingin selalu bersamamu
Menemanimu saat duka dan candamu
Kini...
Musim tlah berganti
Mozaik itu hanya tinggal kenangan
Bersama mimpiku yang hilang
Namun...
Indahnya tetap kurasa
Aromanya tetap kurindu
Terangmu slalu kutunggu
Oh... kembang semusim
Rabu, 03 Agustus 2011
Posted by Zilian Zahra

Tahun Ini Aku Tak Bersama Dirimu Lagi

Kau memang cantik dan manis pula
Kau buah hati ibumu satu-satunya
Kau harta satu-satunya milik ibumu
Kau jua harapan kehidupan yang lebih baik
Kini kau telah dewasa
Kau dapat merasakan sendiri bagaimana jauh dari Ibumu
dan Ibumu pun jua merasakan apabila jauh darimu
Aku tahu karna aku bersama dirimu
Tahun kemarin

Tahun ini
Aku tak bersama dirimu lagi
bahkan wajahmu pun tak kutemui
Bukan karena kau hilang
namun hatimu tak melihatku lagi
Kau dalam bayang-bayang yang tak tentu
Mengemban semua ini belum tentu kau mampu
Aku tahu siapa dia
karena itu aku khawatir denganmu
Aku tahu siapa dia
karena itu aku merindukanmu

Namun...
Apalah arti tanganku ini
Mungkin sudah kau anggap duri dan onak
Sehingga kau bersihkan dari hati dan pikiranmu

Tahun ini
Aku tak bersama dirimu lagi
Rindu ini hanya bisa kurasai
dan tak kan mungkin aku menyentuh
Walau dalam bayangmu

Rindu rindu rindu
Bukan hanya merinduimu
Merindui Ibumu pula yang kian renta
Kuberharap kau akan belajar
karena kau akan menjadi ibu kelak
Selasa, 02 Agustus 2011
Posted by Zilian Zahra

GAMBARAN DIRI

Karang jurang sekarang sudah biasa aku lewati
Merangkak dan tertatih juga pernah kualami
Apalagi melihat segala analogi
Bagiku semua makanan renyah yang kualami
Walau mungkin ada yang terlewati

Hidup beralaskan trotoar dan beratap langit
Makan sebungkus bertujuh dengan lauk seadanya
Aku pernah merasainya
Bahkan merasakan panasnya dunia
Namun aku tak pernah jera

Kau boleh anggap aku wanita apapun
Kau boleh berseru pada semut di tanah
Atau kau kabarkan pada angin melaju
Sampaikan kekecewaanmu akan aku
Ungkapkan segala rasamu pada mereka

Diammu aku tahu bencimu aku rindu
Ketika burung masih merayu
Dan lagu terdengar lirih mendayu
Alam ikut menari irama berpadu
Dan batu berdzikir syahdu

Rela ku menapaki semuanya
Kecewa ku karena diammu
Aku menari merayu agar kau mau
Bukan untuk memadu tapi mengadu
Keresahan hati yang menggumpal

Katakan pada dunia agar dunia tahu
Sampaikan pada langit agar langit ikut mendengar
Bicarakan pada angin yang berlalu
Titipkan pada petir yang menyambar
Ucapkan bahwa aku wanita LIARRR!!!
Tak seperti kau yang nanar
Terkoyak pada biji yang samar

Inilah aku tanpa egoku
Inilah aku yang papa
Inilah aku yang daif
Inilah aku yang naif
Tanpa pengharapan dan sendiri



*dedicated by Awang
Jumat, 25 Maret 2011
Posted by Zilian Zahra
Tag :

Popular Post

- Copyright © Catatan Zilian Zahra -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -