Tampilkan postingan dengan label kesan. Tampilkan semua postingan
KELUARGA BARU, SEMANGAT BARU DI #KAMPUSFIKSI 11
Pernahkah kamu merasakan tidak bergairah lagi? Dalam suatu
hal atau beberapa hal. Ya! Begitulah perasaanku ketika harus antri mengikuti
#KampusFiksi. Dari November 2013 aku baru dapat giliran tahun 2015. Alamak lamanya.
Sepanjang waktu mengantri, aku dihadapkan dengan berbagai
ujian hidup. Sampai pada kehilangan gairah menulis. Bagaimana tidak, semakin
berusia haruslah semakin dewasa. Tuntutan pekerjaan dan kehidupan nyata yang
melelahkan membuat sepanjang 2014 menjadi penulis tidak produktif.Puisi,
menulis puisi yang biasa dilakukan setiap saat setiap waktu, pun ikut tergerus.
Walaupun sesekali menulis puisi masih
saya lakukan.
Kamis, 05 Februari 2015
Posted by Zilian Zahra
KATA YANG (TAK SEMPAT) TERUCAP
Selepas audisi, aku masih termenung. Bertanya-tanya dan mengevaluasi
diri “Mengapa kata itu tidak muncul di bibir ketika itu?” dalam benak kata itu
hadir. Hingga aku menuliskan ini, aku masih bertanya, dengan pertanyaan yang
sama. “Ini kehendak Tuhan, kamu harus menerimanya. Persis seperti apa yang
pernah kamu tulis di twitter” jawaban
yang selalu mengiringi setiap pertanyaan itu muncul.
ADA PENGALAMAN MASA SEKARANG
Tahun 2012 lalu diajak wisata bersama Fans Radio Roshinta
Tegal. Salah satu tujuannya adalah ke Malioboro. Berbeda dengan mereka yang
langsung seneng mau blanja-blanji, tapi aku memilih menghubungi temanku yang di
Yogyakarta untuk temu kangen. Sembari menunggu teman, saya duduk di tepi
parkiran kendaraan wisata. Tepatnya di seberang Taman Pintar.
Sore itu, tiba-tiba ada seorang pria berkumis dengan
menggendong tas punggung mendekatiku. Dia memperkenalkan diri dan mengaku
sebagai wartawan KR (Kedaulatan Rakyat). Untuk keperluan korannya, aku sedikit
di wawancarai perihal tempat wisata yang paling suka aku kunjungi. Spontan aku
jawab ke museum karna di museum aku mendapat pelajaran dan hal baru.
Lembah Persahabatan
... sahabat itu, tidak hanya sebatas suka dan duka
Ataupun ketika ditemui susah dan senang
Namun sahabat adalah yang mampu
menutup kelemahan menjadi sempurna bersama
***
Kutemuinya bersarang dalam lembah yang indah dan berwarna. Anggun dan memesona seelok merak kayangan. Mereka mengajakku menari di dalamnya. Argh, tarian yang selama ini aku idamkan. Menawarkan kejujuran dan kekeluargaan yang sempurna, walau tanpa kata “Ayah” dan “Ibu”.




