Ketika Riak Menempa Bayang
Suara tangis terdengar dari kejauhan, semakin dekat bau kemenyan dan kembang-kembangpun menyelimuti. Orang lalu lalang menyampaikan belasungkawa pada keluargaku, bacaan ayat-ayat Alquran juga terdengar riuh. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tadi siang orang-orang membawa keranda kerumah. Untuk apa keranda itu? Kenapa dibawa kerumahku? Kudekati ibuku yang sedang menangis, kenapa ibu menangis ya? Padahal setiap aku menangis selalu dilarang oleh ibu, katanya seperti anak kecil. Aku dipeluk ibu erat, suara tangis ibu semakin keras terdengar di telingaku. Aku takut bertanya pada ibu, mungkin ibu merasa tidak enak badan, seperti aku jika merasa tidak enak badan pasti menangis.
“Bu, kok Bapak tidurnya diluar si? Bapak kenapa Bu?” aku mulai memberanikan diri bertanya.
INIKAH RASANYA DAPAT AWARD...
Lama banget rasanya tidak berkunjung ke Bloof tapi hati ini serasa tertaut. Surprise aku terima dari seseorang yang manis, periang dan eksis di Bloof,, Ya! Anna Qurrota 'Ayun memberikan sebuah award untukku. Award ini diberikan karena kata si Anna Blog ku punya template yang cantik dan menarik.
Syukron, Jazakumullah Akhsanal Jaza'... terimakasih Anna, kau mengikatkan kembali tali silaturahim kita dengan Bloof.
![]() |
| ini dia award dari Anna |
Syukron, Jazakumullah Akhsanal Jaza'... terimakasih Anna, kau mengikatkan kembali tali silaturahim kita dengan Bloof.
"Bloof" melekat di hati
Akhirnya genaplah sudah hari ini setahun berdirinya Bloof (Blog Of Friendship), 15 November 2010 Blog ini berdiri dan merangkak dengan cepatnya sehingga sampai aku menulis postingan ini anggota Bloof mencapai 1480 orang dari berbagai belahan bumi Indonesia. Bahkan yang masih studi di luar Indonesia pun mereka antusias untuk ikut menjalin persahabatan disini.
Aku yang bukan termasuk anggota aktif juga tidak mau melewatkan momen yang bahagia ini. “Initial Zerro Alfa Hero” kujadikan facebook alternatif untuk bisa lebih intens berkomunikasi dengan anggota Bloof, kenapa tidak? Di Fb-ku yang sebelumnya terlalu penuh sehingga terkadang aku sulit membagi waktu untuk bisa menyapa atau sekedar mengeluarkan unek-unek di Bloof. Yah... walaupun terkadang mungkin komentarku tidak bermutu sehingga tidak ada yang menanggapi, sekarang bagiku bisa komunikasi dengan teman-teman Bloof adalah hal yang menyenangkan.
Tenggelam Perlahan
Langit benar-benar tak menyapa aku hari ini, mereka murung padaku. Mungkin karena aku tidak menyapa mereka lebih dahulu. Aku pikir hujan akan datang dengan penuh senyum yang dapat menghiburku. Namun hanya mendung yang menghiasi walau ia tak menyapa. Bagaimana aku bisa tersenyum jika mereka tak senyum padaku? Argh... kenapa sih begitu tingginya egoku ini. Mengalah bukankah lebih baik?
Iya! Mengalah hal yang terbaik, memulai melakukan hal-hal yang membuat mereka kembali tersenyum dan menyapaku tapi apakah ini ringan untukku? Aku merasa berat, karena ternyata separo diriku sudah masuk ke dalam telaga. Telaga ini masih dipenuhi dengan airmataku yang sempat tercurah sejak dua pekan yang lalu. Ini salahku pula, kenapa aku harus menangis? Tapi jika aku tidak menangis, pasti dadaku semakin menyesak dan mudah saja aku patahkan diriku.
Tidak! aku tidak mau serupa itu, aku harus berusaha bagaimana caranya aku bisa tidak tenggelam kembali. Aku coba walau perlahan, coba dan coba terus. Meminumnya.... Ufh... asin dan kecut! Memindahkannya dengan ember... ohh... begitu berat dan lama, telaga itu seluas samudera. Ah... harus aku apakan ini? tak terasa keringatku sudah menambah air itu, hingga hanya dari leher hingga kepalaku saja yang terlihat. Ingin mencoba menepi pula, namun ternyata aku berada jauh dari tepi, tak ada kapal, tak ada perahu ataupun sampan yang melintas hingga aku bisa dibawanya untuk keluar dari airku sendiri ini.
Lapaaaarrr... aku merasakan lapar, tak ada apapun yang bisa aku makan. Ikan dan sejenis yang hidup dalam air ini tak satupun tampak olehku, lapar semakin mendera aku tak tahu harus bagaimana. Aku masih punya semangat, semangat untuk tetap bertahan. Tak lama, sang surya muncul dengan bulatan membara, oh... teriknya melelehkan otakku. Rasanya kepala ini akan terpecah karena memuai.
Hidungku sudah sesak oleh air yang menggenangi diri, semakin panik dan semakin bingung. Ingin teriak namun mulutku sudah tak mampu lagi berucap. Aku rasakan sakit yang amat di kepalaku dan semua terasa gelap.
Hidungku sudah sesak oleh air yang menggenangi diri, semakin panik dan semakin bingung. Ingin teriak namun mulutku sudah tak mampu lagi berucap. Aku rasakan sakit yang amat di kepalaku dan semua terasa gelap.
Brebes, 14 November 2011
Ceritaku Tentang Blog dan Blogger
Hmmm... Hari ini adalah hari yang istimewa bagi para Blogger. Kenapa enggak? Blogger wajib bangga karena ada peringatan hari Blogger Nasional. Enggak sia-sia kan bagi yang suka nulis apa aja di blog ternyata dihargai. So, gak ada nyeselnya deh bagi para Blogger kalo terus ngemabngin bakatnya di bidang tulis menulis (jangan kaya aku yang suka males2an) hehe...
Negara Indonesia sendiri 'menurut saya' adalah negara yang masih demam dengan jejaring sosial yang biasa dikenal dengan sebutan facebook dan twitter. Minat mereka untuk nulis sangat minim, saya mengatakan seperti ini karena masih banyak sekolah formal yang tidak membiasakan siswa nya untuk menulis. Menulis yang saya maksudkan disini adalah menulis bebas, bukan pelajaran yang tinggal menyalin dari buku cetak ke buku catatan. Saya senang melihat siswa yang gemar menulis, walau tulisannya hanya untuk pribadi saja atau menulis tentang kehidupan pribadinya saja namun itu adalah sebuah prestasi bagi dia, karena dengan menulis melatih otak kita untuk cerdas dalam bahasa atau dikenal dengan nama Kecerdasan Linguistik. Semakin sering menulis semakin banyak kosakata yang dimiliki. Apalagi tulisan itu dipublikasikan.
Kamis, 27 Oktober 2011
Posted by Zilian Zahra



