AKU INGIN KEMBALI
Aku harus kembali, sungguh aku
harus kembali. aku tidak ingin merasakan duka yang mendalam. Apsara telah
memabukkanku, dia tidak memandang lagi asalku tak berpunya. Kesadaranku masih
mampu tergoyah, jika masih kunaungi istana ini.
“Duhai Amerta, apakah kau tega
meninggalkanku di belantara ini? kau sendiri telah mengetahui perihal hatiku,
perihal cintaku padamu. Masihkah kau ingin kembali ke asalmu? Kumohon, jangan
tinggalkan aku.” Bentangan telaga menjadi saksi ucapmu padaku. Tangisnya pecah,
jemari halusnya menggenggam tanganku. Erat, sepertinya tak ingin lepas.
“Lihatlah rupaku, wahai Bidadari.
Lusuh, kumal, dan bauku tak sesedap baumu. Maafkan aku yang tak mungkin
bersanding denganmu. Aku yakin, masih ada Amerta lain yang lebih beruntung
dariku. Sehingga celaan tak akan pernah datang kepadamu, Apsara.” Aku beranjak,
berharap Apsara merelakan kepergianku. Aku sudah ingin kembali.
“Aku telah memilihmu, Amerta.”
Dia mengejarku, menutup jalan kepergianku. Kedua tangannya dilapangkan.
Tangisnya kian deras, menghitamkan langit waktu sore. Tak lama kemudian, petir
menggelegar disertai hujan deras. “Aku telah memilihmu, Amerta. Bukan Amerta
lain ataupun setingkat Dewangga. Jika kulihat rupamu, semua hanya penghias
raga. Bukankah hal itu fana? Aku memilihmu karena hatimu. Jadi kumohon, jangan
tinggalkan aku.”
“Apsara, lepaskan pelukanmu! Aku
tak ingin ada satupun kotoran padamu. Aku memang Amerta, tapi aku bukan dari
golongan terhormat sepertimu. Aku hanya pelayan istanamu dan kulakukan semua
ini karena aku dibayar. Ijinkan aku pergi, jika semakin lama aku disini,
semakin membuatmu melakukan hal yang tak pantas dilakukan seorang bidadari.”
“Cintaku tak memandang kasta,
Amerta. Aku tidak mau melepaskan pelukanku. Aku hangat bersamamu. Bayaran itu
hakmu, namun mencintaimu juga hakku.”
“Tidak, Apsara. Aku tidak
melarang kau mencintaiku, tapi bukan seperti ini caranya kau mencintaiku. Cukup
senyum dan tutur kata lembutmu sebagai bukti cintamu padaku. Hujan semakin
deras, pulanglah ke istanamu.”
“Aku akan pulang ke istana
bersamamu.” Keinginannya bulat, tak mudah tergoyah.
“Maafkan aku, Apsara. Aku sudah
tidak bekerja di istanamu lagi. Aku harus kembali ke asalku.”
“Jika begitu, aku turut
denganmu.” Apsara melepaskan pelukannya dan menggandeng tanganku. Dia berjalan
ke arah kembaliku.
“Jangan, Apsara. Aku tak mau
Ayahmu murka. Kembalilah, aku yakin orang istanamu pasti mencarimu.” Aku
menghentikan langkahku. Dia pun ikut berhenti. “Baiklah, aku akan kembali ke
istanamu.” Kuhela nafas berat dan berjalan kembali ke istana.
***
“Aku yang meminta turut
dengannya, Ayah. Jangan salahkan dia.” Apsara bersimpuh di kaki Ayahnya.
Tangisnya masih bersisa, dia benar-benar bermohon.
“Anakku, Apsara. Kau tahu siapa
dia? Adakah yang lebih baik kau cinta selain dia? Jika tidak, kau kuijinkan
turut dengannya.”
“Terimakasih, Ayah.”
BALADA CINTA
![]() |
| sumber : internet |
Semburat cahaya di antara kemukus awan
Tanpa suara tanpa airmata menerjang kuasa
Badai perenggut sukma menari bangga
Gerhana benua bersanding gempa
Dongeng cinta menjelajah rela
Duka nestapa tampak oleh mata
Walau jauh tak terhitung masa
Tetap bertahan untuk yang tercinta
Edelweis penebus kata peneman cerita
Melatunkan nada kasih untuk yang tak setia
Kini tinggallah sisa-sisa peluh
Bersama senyum yang kian menjingga
ZZ - April 2012
Ketika Persahabatan Nyata
“Tinggalkan aku, Lin.”
“Gila lu ya? Sampai kapanpun gue
nggak akan ninggalin elu”
“Ta ta tapi kamu tahu penyakitku
sekarang kan? Aku takut kamu tertular dengan penyakitku.”
“Gue tetep nggak akan ninggalin
elu, Fer. Sama persis saat elu nemenin gue sembuh dari kecanduan.”
“Sudahlah, Lin. Jangan
ingat-ingat lagi hal itu. Penyakitmu bisa sembuh, tapi dokter menvonis kalo
umurku sudah nggak lama lagi.”
“Fer! Pandang gue”
“Jangan dekati aku, Lin”
“Pandang mata gue! Apapun yang
elu rasain, elu kudu semangat buat sembuh. Gue nggak ingin hidup lu sia-sia”
“Aku nggak kuat, Lin. Virus ini
sudah bersarang di tubuhku.”
“Gue yakin elu pasti kuat, Fer.
Gue selalu ngedukung elu.”
“Makasih ya, Lin.”
Keberadaanku disini sudah mulai terancam. Tempat persembunyianku telah dicium oleh dia. Semua rasa berkecamuk, kamu pasti tahu bagaimana rasanya jika sedang terancam? Sama seperti perasaanku sekarang.
AKU INGIN BENIHMU DALAM RAHIMKU ...
“Ada yang beda dengan kebersamaan
kita, aku merasakannya” Bisikmu memeluk bibirku. Senja kali ini begitu beda
kurasa. Dia menanyakan sesuatu yang selama ini aku simpan rapat. Sesuatu yang
tak ingin seorangpun tahu, sekalipun dia.
“Kamu merasakan apa, Sayang?
Katakanlah, aku tidak ingin melihat elokmu berubah menjadi gusar” hiburku
padanya. Kulingkarkan lengan di pinggangnya, kutatap matanya lekat. Kuyakinkan dia
dan hatiku bahwa tidak ada sesuatu di bola mataku.
“Apakah kau sudah tidak ingin
bersamaku lagi?” dia menyembunyikan muka dariku. Buru-buru kulumat bibir
merahnya.
“Jangan pernah lagi kamu katakan
itu padaku, Sayang. Pegang dadaku, rasakan. Aku menyimpanmu pada jantungku,
pada kehidupanku, dan pada setiap nafasku. Jadi, selama jantungku masih
berdetak, selama nafas masih mengalir dalam tubuhku, aku ingin selalu
bersamamu. Jangan pernah kau ragukan aku.” Aku tidak menyangka dia membuatku
sepanik ini di tahun pertama pernikahan ini. Kueratkan genggamanku padanya,
suasana hening sejenak, hanya ombak yang masih menari. “Adakah yang kamu
inginkan dariku selain yang telah kau dapat?”
“Kau lebih dari cukup, Mas. Hanya
saja ijinkan aku meminta sesuatu kepadamu. Kuharap kau tak marah ataupun
kecewa.” Matanya penuh pengharapan.
“Iya sayang, apa yang kamu mau?
Kuharap aku bisa memenuhinya.” Dengan cepat aku menyahut.
Lelaki Tua dan Isteri Terakhirnya
“Juangkrikkk! Anak siapa lagi
yang ada dalam perutmu!” Di depan wanita itu, lelaki tua dengan kreteknya di
jari membuang ludah. Wanita cantik itu berbadan ramping, kulitnya sawo matang
dan berambut panjang. Usianya masih duapuluhan tahun, selisih tigapuluh tahun
dengan lelaki tua itu. Dibanding dengan ke tujuh istrinya yang lain, wanita ini
paling muda dan paling cantik.
“Untuk apa kau tanyakan itu? Apa
kau masih mampu memuaskanku?” wanita itu berlalu. Ia mengambil rokok dari dalam
tasnya, kemudian menyulutnya.
“Justeru kau yang seharusnya
memuaskanku, tengik!” lelaki tua itu bangkit dari kursinya. Mukanya memerah.
Kretek yang tinggal separuh, ia banting. Tepat mengenai lantai depan wanita itu
melepas hak tingginya.
“Untuk apa keenam istrimu?
Mengapa selalu saja aku yang kau tuntut?” dihadapan lelaki itu, wanita berdiri.
Asap rokoknya sesekali menghalangi wajah kedua orang tersebut.
“Bangsat! Wanita Keparat!” Ujung
runcing keris di genggaman lelaki itu diarahkan pada perut wanita itu.
“Jjjangannn! Ini anakmu, darah
dagingmu sendiri. Apa kau tega?” dari muka wanita itu, keringat dingin mulai
tampak.
“Benarkah ini anakku?” suara
lelaki itu melemah. Di tempatnya keris di genggaman dikembalikan. Perlahan
lelaki itu mendekat. Perut wanita yang membuncit, dielus-elusnya. “Aku tidak
percaya! Tiga bulan kau tak melayaniku” lelaki itu kembali garang.
“Kau perlu bukti apa, sayang?
Mari kita ke dalam” keringat dingin membuncah, menahan gemetar dalam raga.
“Tipu daya apalagi yang kau
gunakan, tengik! Rayuanmu sudah tak mampu lagi meluluhkan hatiku. Hahaha. Kau
pilih jujur atau ajur?!” lelaki itu kembali menodongkan keris. Kini di leher
wanita itu.
“Yakinlah, sayang. Aku mengandung
darah dagingmu. Jika masih tak kau percayai. Lihatlah tanda yang kau tinggalkan
tiga bulan yang lalu.” Lelaki itu kembali luluh.
November 2012



