PESIMIS IS ME #1

Sambiroto, 8 April 2013.
Untuk yang kelima kalinya aku menginjakkan kaki di tanah ini. Kawah Candradimuka. Ya, mudah kuucap. Karena disini tempat aku mendapatkan pengalaman banyak hal tentang PMI. Sekarang, aku disini mengikuti kegiatan Pemusatan Latihan Kontingen PMI Provinsi Jawa Tengah dalam Temu Karya Nasional V dari 8-13 April 2013.

Hari pertama, Semarang cukup indah untuk kukunjungi. Si Merah menjadi teman setia perjalanan. Menyapa teman-teman yang sudah banyak yang tidak asing bagi penglihatanku. Sebagian ada pula yang belum kukenali. Aku yakin semua orang hebat, semua orang-orang pilihan yang dikirim untuk mewakili daerahnya.

AKU??? Pertanyaan besar melanda otak dan hatiku. PESIMIS! Itu yang menempel pada diriku sejak dua hari sebelum aku hadir disini. Aku ngerasa tak ada yang mampu aku penuhi dalam kriteria ini. Terbukti! Kepalangmerahan hanya beberapa yang bisa aku jawab. Best Practise >_< apa ituwh??? Untung aku tesnya bareng sama Ocha, KSR dari PMI Kab. Banyumas. PPP... oh my God aku baru denger dan tahu. Och,,, kepanjangannya lupa L. Manajemen Bencana, ada dua pos yang harus aku lewati. Walhasil, aku nyerah dan pasrah. Lanjut ke KBBM Pertama, aku berusaha semakin jujur. Aku belum tahu. PP akrab sebutan dari Pertolongan Pertama dan PK atau Pertolongan Keluarga, Ambulans??? Ahhh! Apakah aku ini menjadi orang yang kurang beruntung? Dan KPPBM pun nggak jauh beda. Juga Promosi Kesehatan dan Watsan. Apa yang aku katakan, terbukti ya terbukti.

Rasanya pengin mundur, aku pengin pulang. Tapi teman-teman menguatkan semangatku! Aku tidak boleh pesimis! Aku harus optimis. Karena semua ini bukan hanya untuk aku, tapi untuk PMI Kota Pekalongan. Aku harus menciptakan citra baik PMI Kota Pekalongan, tapi ini yang ku mampu. Belum belajar? Iya. Apakah tidak ada waktu untuk belajar? Tidak. Kenapa? Banyak sekali yang harus aku kerjakan dan fikirkan hingga tidak kusediakan rongga untuk belajar.

Aku sadar, ini hanya permulaan. Sungguh-sungguh yang aku inginkan. Sekali lagi PESIMIS is ME. But, untuk PMI Kota Pekalongan OPTIMIS will be right. Hari Pertama terselesaikan dengan indah. Aktivitas baru dan apapun yang baru kutemui. Untukku semangat harus ada. (Zilian Zahra)
Selasa, 09 April 2013
Posted by Zilian Zahra

SENJA PERPISAHAN ITU



by. Zilian Zahra

“Sudah kangen-kangenannya?” lima belas Desember dua ribu sebelas kali pertama sebelum perkenalan kata itu muncul. Sosok cantik itu seperti tidak rela pertemuan ini terjadi. Seolah dia takut aku merebutmu dari pelukannya. Saat itu, tangan menjabat acuh padaku, sosok cantik disebelahmu menampakkan mata api.

Hanya pertemuan sesaat lalu, diantara mobil dan deretan motor yang terparkir rapi. Penjual-penjual menyambut hangat lalu. Diantara mereka, orang lalu lalang, bersandar, berkerumun. Aku, dia dan perempuan itu berjalan. Dalam hati rindu memburu dan terobati

“Aku tidak akan merebut milikmu, aku hanya mengakhirkan rindu.” bisikku dalam hati.

Tak banyak yang kulakukan, sejenak berhenti, membasahi kerongkongan kering. Aku bergumul dalam waktu. Menikmati segelas jus tomat pelepas perih. Aku melihatmu asik mesra dengannya. Aku cemburu, namun aku berhasil menyembunyikannya. Tarian dan nyanyian iringi duka perpisahan, menghiburku.


“Aku ingin melihatmu di pelaminan” itu kata terakhirmu untukku. Entah apa yang ada di benakmu. Aku menginginkanmu, bukan berarti aku harus mendapatkanmu. Tapi cinta ini ada untukmu. Perpisahan ini kujadikan prasasti di antara bilik-bilik kerinduan yang harus kubuang lepas jauh. Aku tak inginkan perpisahan ini, namun aku tak dapat mengelak kehendak. Aku pasrah, aku rela dalam senja yang menutup pertemuan kita.

Kita berlari, mengejar waktu yang akan tertutup, habis termakan keegoan kita sendiri. Mungkin selamanya kita tidak akan bisa bersama, selamanya waktu mengutuk kita untuk berpisah. Kita masih saja berlari melewati kepulan asap rokok yang mengaburkan senyum kita. Gadis cantik yang manja bersamamu, tak pernah mau lepas dari pelukmu.

Di perempatan kita berpisah, pertemuan terakhir dan perpisahan. Kini tak lagi kutemui sosokmu yang kunanti dan kurindu. Entah kau masih merinduku atau telah lupa adaku.
Jumat, 05 April 2013
Posted by Zilian Zahra

KAU KINI (HILANG) DALAM KENANGAN


By : Zilian Zahra

Siapa lagi yang mau mengais sampah sepertiku? Jika dia tahu, aku tidak hanya sampah yang telah terbuang. Aku lebih dari itu, hanya saja banyak orang yang tidak mengerti. Kecuali KAU! Setelah Tuhan, kau tahu semua tentang aku. Terlebih tentang kondisi perutku yang semakin membuncit. Aku tidak menyalahkanmu, tidak pula aku menuntut tanggungjawab darimu. Hanya saja aku ingin kau yang menemaniku. Ketika proses pembedahan akan dimulai hingga akhir usiaku. Karena aku yakin, kau mampu mengertiku. Tuhan yang telah mengirimmu untuk merawatku. Tumor ini hanya ujian Tuhan, seberapa kuat aku tanpamu.

Melihat rautmu, sepertinya kau keberatan menerima permintaanku. Ya, aku tahu kau juga ingin hidup bahagia dengan lelaki sehat, tidak sepertiku. Namun berilah aku kesempatan untuk bahagia. Kau pun tahu, jika aku meminta hal ini kepadanya, dia pasti akan setuju. Dan dia akan rela menghabiskan sisa umurnya untukku. Tetapi, apakah dia akan bisa sepertimu? Kau bilang ini takdir, dan hidupmu adalah pilihanmu. Aku tidak menyalahkan jika memang permintaanku terlalu berat untukmu. Banyak kisah yang telah kita rajut bersama.

Masih ingatkah setiap pertemuan kita? Kau tertawa gembira menyambutku. Kita saling berpeluk mesra. Kukecup keningmu dan kau membalasnya, di taman bunga kota kita.
“Apa kau tak pernah bosan merindukanku setiap hari?” wajahmu manja menanyakan hal ini.
Kujawab “Aku akan bosan merindukanmu esok hari” kulihat kau mengernyitkan dahi, entah apa yang membuatmu demikian.

Waktu terus berjalan, pertanyaan yang sama selalu kau lontarkan ketika aku berkata kangen padamu. Kau tahu? Aku mencintaimu seperti aku merawat kuku. Jadi jangan pernah khawatir aku meninggalkanmu. Namun keadaan telah berubah.

“Maaf aku ingin pergi darimu” Duar!!! Serasa petir menyambar, tiba-tiba kau ucapkan itu.
“Kenapa? Adakah yang keliru dalam hubungan kita?”
“Aku sudah tidak mampu lagi bersamamu”
“Apa yang membuatmu tidak mampu, bukankah kau inginkan aku tidak mundur? Tapi kenapa kau yang mundur?”
“Mundur bukan berarti kau hilang semangat, ada makna lain yang lebih dalam dari itu”
Aku hilang arah, aku hilang semangat. Kau katakan hal itu ketika aku tak seperti dulu lagi. Aku mengidap penyakit. Aku tampak tua karena perut buncit ini.

Argh! Masih saja kuingat keindahan bersamamu. Ketika perutku mulai buncit, kau pikir ini karena cacing dalam perutku semakin banyak. Kau belikan aku obat cacing, tak ada perubahan. Tiap hari saat kita bertemu, kau yang mengoleskan minyak untuk perutku. Berharap lekas sembuh. Masih ada canda tawa menyertai. Sesekali kau bercerita tentang hal yang konyol, aku tidak tertawa, kau marah lalu menciumku.

Semakin besar perut ini, semakin besar pula ketidakhadiranmu disisiku. Kau bilang sibuk, banyak yang harus dikerjakan. Aku memaklumi, apalagi saat kamar serba putih jadi tempat tidurku. Pernah sekali kau datang membawakan bunga dan meninggalkan ciuman. Ternyata itu saat terakhirku bertemu denganmu. Kau inginkan perpisahan ini terjadi. Apa yang kini kurasakan, tak ada yang pergi lalu datang lagi, tak kudengar bibir manismu menyanyi lagu-lagu kemesraan kita. Tak kurasa lagi hangat peluk disini, tak ku dapat lagi belai kasih disini. Waktu terus berlalu membawa diriku dalam suka dalam duka menangis dan tertawa, tak ku dengar lagi suara tawa disini. Jauh sudah dari semua tentangmu. Ada bagian yang hilang dalam hidupku.
sumber : Internet
Kamis, 04 April 2013
Posted by Zilian Zahra

AKU INGIN KEMBALI


Aku harus kembali, sungguh aku harus kembali. aku tidak ingin merasakan duka yang mendalam. Apsara telah memabukkanku, dia tidak memandang lagi asalku tak berpunya. Kesadaranku masih mampu tergoyah, jika masih kunaungi istana ini.

“Duhai Amerta, apakah kau tega meninggalkanku di belantara ini? kau sendiri telah mengetahui perihal hatiku, perihal cintaku padamu. Masihkah kau ingin kembali ke asalmu? Kumohon, jangan tinggalkan aku.” Bentangan telaga menjadi saksi ucapmu padaku. Tangisnya pecah, jemari halusnya menggenggam tanganku. Erat, sepertinya tak ingin lepas.

“Lihatlah rupaku, wahai Bidadari. Lusuh, kumal, dan bauku tak sesedap baumu. Maafkan aku yang tak mungkin bersanding denganmu. Aku yakin, masih ada Amerta lain yang lebih beruntung dariku. Sehingga celaan tak akan pernah datang kepadamu, Apsara.” Aku beranjak, berharap Apsara merelakan kepergianku. Aku sudah ingin kembali.

“Aku telah memilihmu, Amerta.” Dia mengejarku, menutup jalan kepergianku. Kedua tangannya dilapangkan. Tangisnya kian deras, menghitamkan langit waktu sore. Tak lama kemudian, petir menggelegar disertai hujan deras. “Aku telah memilihmu, Amerta. Bukan Amerta lain ataupun setingkat Dewangga. Jika kulihat rupamu, semua hanya penghias raga. Bukankah hal itu fana? Aku memilihmu karena hatimu. Jadi kumohon, jangan tinggalkan aku.”

“Apsara, lepaskan pelukanmu! Aku tak ingin ada satupun kotoran padamu. Aku memang Amerta, tapi aku bukan dari golongan terhormat sepertimu. Aku hanya pelayan istanamu dan kulakukan semua ini karena aku dibayar. Ijinkan aku pergi, jika semakin lama aku disini, semakin membuatmu melakukan hal yang tak pantas dilakukan seorang bidadari.”

“Cintaku tak memandang kasta, Amerta. Aku tidak mau melepaskan pelukanku. Aku hangat bersamamu. Bayaran itu hakmu, namun mencintaimu juga hakku.”

“Tidak, Apsara. Aku tidak melarang kau mencintaiku, tapi bukan seperti ini caranya kau mencintaiku. Cukup senyum dan tutur kata lembutmu sebagai bukti cintamu padaku. Hujan semakin deras, pulanglah ke istanamu.”

“Aku akan pulang ke istana bersamamu.” Keinginannya bulat, tak mudah tergoyah.

“Maafkan aku, Apsara. Aku sudah tidak bekerja di istanamu lagi. Aku harus kembali ke asalku.”

“Jika begitu, aku turut denganmu.” Apsara melepaskan pelukannya dan menggandeng tanganku. Dia berjalan ke arah kembaliku.

“Jangan, Apsara. Aku tak mau Ayahmu murka. Kembalilah, aku yakin orang istanamu pasti mencarimu.” Aku menghentikan langkahku. Dia pun ikut berhenti. “Baiklah, aku akan kembali ke istanamu.” Kuhela nafas berat dan berjalan kembali ke istana.
***
“Aku yang meminta turut dengannya, Ayah. Jangan salahkan dia.” Apsara bersimpuh di kaki Ayahnya. Tangisnya masih bersisa, dia benar-benar bermohon.

“Anakku, Apsara. Kau tahu siapa dia? Adakah yang lebih baik kau cinta selain dia? Jika tidak, kau kuijinkan turut dengannya.”

“Terimakasih, Ayah.”

---
Pekalongan, 22 Maret 2013
Jumat, 22 Maret 2013
Posted by Zilian Zahra

BALADA CINTA

sumber : internet

Semburat cahaya di antara kemukus awan
Tanpa suara tanpa airmata menerjang kuasa

Badai perenggut sukma menari bangga
Gerhana benua bersanding gempa

Dongeng cinta menjelajah rela
Duka nestapa tampak oleh mata

Walau jauh tak terhitung masa
Tetap bertahan untuk yang tercinta

Edelweis penebus kata peneman cerita
Melatunkan nada kasih untuk yang tak setia

Kini tinggallah sisa-sisa peluh
Bersama senyum yang kian menjingga

ZZ - April 2012
Kamis, 21 Februari 2013
Posted by Zilian Zahra

Popular Post

- Copyright © Catatan Zilian Zahra -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -