PESIMIS IS ME #2
Yap! Hari kedua ini berjalan dengan
PESIMIS (lagi). Selasa, 9 April 2013. Aku menyadari banyak kekuranganku, bahkan jika bisa, aku akan
mengakhiri semuanya pada hari ini. apalah arti aku disini jika tidak mampu
melakukan apapun?
Pagi ini aku sudah cukup optimis
untuk diikutkan menjadi tim peserta lomba. Ketika pengumuman dilaksanakan, aku
merasa out of qualification. Saat itu
juga wajah kulipat, hanya mampu berteriak dalam hati, AKU MEMANG KURANG! AKU
MEMANG KURANG! AKU MEMANG KURANG!
Keistimewaan tak ku rasa dalam
diriku, ingin sekali pergi, hilang dan lenyap. Apa dayaku. Aku tak mampu. Ketika
aku semakin terpuruk, aku semakin tahu bahwa aku tak mampu, aku yakin PESIMIS
IS ME. Hari kedua masih pesimis.
ADA KEAKRABAN DI MALAM PERTAMA (8/4/2013)
Kami, dari berbagai daerah
berkumpul membentuk keakraban. Dr. Bimo lah provokatornya. Tidak terasa begitu
cepat keakraban ini terjalin. Hanya dengan permainan kertas berwarna dan nyanyi
bersama. Saling sapa walau kadang tidak ingat nama, belajar, bermain bersama.
Sepertinya ini harapan dari semua pelatih kontingen. Ya! Kami disiapkan untuk
mengikuti TKRN V yang akan diselenggarakan di Selorejo, Malang Jatim. 23-30
Juni 2013.
Dengan canda dan kocaknya dr.
Bimo mampu mengantarkan peserta untuk berpikir cepat, tanggap, dan siap sedia.
Gayanya yang nyeleneh membuat peserta tertawa dan menyahut. Riwayat beliau di
Palang Merah Indonesia ternyata tidak diragukan lagi. Dari Jumbara dan Temu
Karya tahun ke tahun, beliau adalah salah satu yang mengantarkan kepada
kesuksesan sehingga PMI Provinsi Jawa Tengah mendapatkan prestasi yang
memuaskan.
“dr. Bimo itu GURU dari masa ke
masa. waGU tur saRU” canda tawa dari Pak Sasongko, Ketua PMI Provinsi Jawa
Tengah ketika pembukaan kegiatan ini. “Harapannya untuk kegiatan ini, Jawa
Tengah mampu mendapatkan prestasi. Juara 1 adalah hal biasa bagi Jawa Tengah,
tapi tidak menutup kemungkinan kita meraihnya kembali.” Lanjut Pak Sas.
dr. Bimo sendiri yang sekarang
minta dipanggil Eyang Subur daripada Eyang Kakung mengharapkan dalam gelak
candanya sempat nyeletuk bahwa kita harus bisa mengecewakan. Mengecewakan
kontingen lain dengan prestasi kita.
Sambutan istimewa juga dari para
pelatih yang berjumlah 17 orang, yakni Mbak Wuri, Mbak Ute, Mbak Ifah, dr.
Iswara, Mbak Wiwik, Mas Danang, Mas Budi, Mas Nashir, Mas Handoko, dan Mbak
Rinut dari unsur PMI Provinsi Jateng, Mas Edi dari banjarnegara, Mas Yoyok dari
Purworejo, Mbak Martini dari Wonogiri, Mbak Nung dari Salatiga, Mas Wanto dari
Surakarta, Mas Hoek dari Demak dan Mas Tito dari Semarang. Mereka
memperkenalkan diri dengan gaya akrabnya. Sehingga bagi peserta mudah dan cepat
untuk dapat berbaur dengan pelatih.
Posted by Zilian Zahra
PESIMIS IS ME #1
Sambiroto, 8 April 2013.
Untuk yang kelima kalinya aku
menginjakkan kaki di tanah ini. Kawah Candradimuka. Ya, mudah kuucap. Karena
disini tempat aku mendapatkan pengalaman banyak hal tentang PMI. Sekarang, aku
disini mengikuti kegiatan Pemusatan Latihan Kontingen PMI Provinsi Jawa Tengah
dalam Temu Karya Nasional V dari 8-13 April 2013.
Hari pertama, Semarang cukup
indah untuk kukunjungi. Si Merah menjadi teman setia perjalanan. Menyapa
teman-teman yang sudah banyak yang tidak asing bagi penglihatanku. Sebagian ada
pula yang belum kukenali. Aku yakin semua orang hebat, semua orang-orang
pilihan yang dikirim untuk mewakili daerahnya.
AKU??? Pertanyaan besar melanda
otak dan hatiku. PESIMIS! Itu yang menempel pada diriku sejak dua hari sebelum
aku hadir disini. Aku ngerasa tak ada yang mampu aku penuhi dalam kriteria ini.
Terbukti! Kepalangmerahan hanya beberapa yang bisa aku jawab. Best Practise >_< apa ituwh???
Untung aku tesnya bareng sama Ocha, KSR dari PMI Kab. Banyumas. PPP... oh my God aku baru denger dan tahu.
Och,,, kepanjangannya lupa L. Manajemen Bencana, ada dua pos yang harus aku
lewati. Walhasil, aku nyerah dan pasrah. Lanjut ke KBBM Pertama, aku berusaha
semakin jujur. Aku belum tahu. PP akrab sebutan dari Pertolongan Pertama dan PK
atau Pertolongan Keluarga, Ambulans??? Ahhh! Apakah aku ini menjadi orang yang
kurang beruntung? Dan KPPBM pun nggak jauh beda. Juga Promosi Kesehatan dan
Watsan. Apa yang aku katakan, terbukti ya terbukti.
Rasanya pengin mundur, aku pengin
pulang. Tapi teman-teman menguatkan semangatku! Aku tidak boleh pesimis! Aku
harus optimis. Karena semua ini bukan hanya untuk aku, tapi untuk PMI Kota
Pekalongan. Aku harus menciptakan citra baik PMI Kota Pekalongan, tapi ini yang
ku mampu. Belum belajar? Iya. Apakah tidak ada waktu untuk belajar? Tidak.
Kenapa? Banyak sekali yang harus aku kerjakan dan fikirkan hingga tidak
kusediakan rongga untuk belajar.
Aku sadar, ini hanya
permulaan. Sungguh-sungguh yang aku inginkan. Sekali lagi PESIMIS is ME. But,
untuk PMI Kota Pekalongan OPTIMIS will be right. Hari Pertama terselesaikan
dengan indah. Aktivitas baru dan apapun yang baru kutemui. Untukku semangat
harus ada. (Zilian Zahra)
Posted by Zilian Zahra
SENJA PERPISAHAN ITU
by. Zilian Zahra
“Sudah kangen-kangenannya?” lima belas Desember
dua ribu sebelas kali pertama sebelum perkenalan kata itu muncul. Sosok cantik
itu seperti tidak rela pertemuan ini terjadi. Seolah dia takut aku merebutmu
dari pelukannya. Saat itu, tangan menjabat acuh padaku, sosok cantik
disebelahmu menampakkan mata api.
Hanya pertemuan sesaat lalu, diantara mobil
dan deretan motor yang terparkir rapi. Penjual-penjual menyambut hangat lalu. Diantara
mereka, orang lalu lalang, bersandar, berkerumun. Aku, dia dan perempuan itu
berjalan. Dalam hati rindu memburu dan terobati
“Aku tidak akan merebut milikmu, aku
hanya mengakhirkan rindu.” bisikku dalam hati.
Tak banyak yang kulakukan, sejenak
berhenti, membasahi kerongkongan kering. Aku bergumul dalam waktu. Menikmati segelas
jus tomat pelepas perih. Aku melihatmu asik mesra dengannya. Aku cemburu, namun
aku berhasil menyembunyikannya. Tarian dan nyanyian iringi duka perpisahan,
menghiburku.
“Aku ingin melihatmu di pelaminan” itu
kata terakhirmu untukku. Entah apa yang ada di benakmu. Aku menginginkanmu,
bukan berarti aku harus mendapatkanmu. Tapi cinta ini ada untukmu. Perpisahan ini
kujadikan prasasti di antara bilik-bilik kerinduan yang harus kubuang lepas
jauh. Aku tak inginkan perpisahan ini, namun aku tak dapat mengelak kehendak. Aku
pasrah, aku rela dalam senja yang menutup pertemuan kita.
Kita berlari, mengejar waktu yang akan
tertutup, habis termakan keegoan kita sendiri. Mungkin selamanya kita tidak
akan bisa bersama, selamanya waktu mengutuk kita untuk berpisah. Kita masih
saja berlari melewati kepulan asap rokok yang mengaburkan senyum kita. Gadis cantik
yang manja bersamamu, tak pernah mau lepas dari pelukmu.
KAU KINI (HILANG) DALAM KENANGAN
By : Zilian Zahra
Siapa lagi yang mau mengais
sampah sepertiku? Jika dia tahu, aku tidak hanya sampah yang telah terbuang.
Aku lebih dari itu, hanya saja banyak orang yang tidak mengerti. Kecuali KAU!
Setelah Tuhan, kau tahu semua tentang aku. Terlebih tentang kondisi perutku
yang semakin membuncit. Aku tidak menyalahkanmu, tidak pula aku menuntut
tanggungjawab darimu. Hanya saja aku ingin kau yang menemaniku. Ketika proses
pembedahan akan dimulai hingga akhir usiaku. Karena aku yakin, kau mampu
mengertiku. Tuhan yang telah mengirimmu untuk merawatku. Tumor ini hanya ujian
Tuhan, seberapa kuat aku tanpamu.
Melihat rautmu, sepertinya kau
keberatan menerima permintaanku. Ya, aku tahu kau juga ingin hidup bahagia
dengan lelaki sehat, tidak sepertiku. Namun berilah aku kesempatan untuk
bahagia. Kau pun tahu, jika aku meminta hal ini kepadanya, dia pasti akan
setuju. Dan dia akan rela menghabiskan sisa umurnya untukku. Tetapi, apakah dia
akan bisa sepertimu? Kau bilang ini takdir, dan hidupmu adalah pilihanmu. Aku tidak
menyalahkan jika memang permintaanku terlalu berat untukmu. Banyak kisah yang
telah kita rajut bersama.
Masih ingatkah setiap pertemuan
kita? Kau tertawa gembira menyambutku. Kita saling berpeluk mesra. Kukecup keningmu
dan kau membalasnya, di taman bunga kota kita.
“Apa kau tak pernah bosan
merindukanku setiap hari?” wajahmu manja menanyakan hal ini.
Kujawab “Aku akan bosan
merindukanmu esok hari” kulihat kau mengernyitkan dahi, entah apa yang membuatmu
demikian.
Waktu terus berjalan, pertanyaan
yang sama selalu kau lontarkan ketika aku berkata kangen padamu. Kau tahu? Aku mencintaimu
seperti aku merawat kuku. Jadi jangan pernah khawatir aku meninggalkanmu. Namun
keadaan telah berubah.
“Maaf aku ingin pergi darimu”
Duar!!! Serasa petir menyambar, tiba-tiba kau ucapkan itu.
“Kenapa? Adakah yang keliru dalam
hubungan kita?”
“Aku sudah tidak mampu lagi
bersamamu”
“Apa yang membuatmu tidak mampu,
bukankah kau inginkan aku tidak mundur? Tapi kenapa kau yang mundur?”
“Mundur bukan berarti kau hilang semangat,
ada makna lain yang lebih dalam dari itu”
Aku hilang arah, aku hilang
semangat. Kau katakan hal itu ketika aku tak seperti dulu lagi. Aku mengidap
penyakit. Aku tampak tua karena perut buncit ini.
Argh! Masih saja kuingat keindahan
bersamamu. Ketika perutku mulai buncit, kau pikir ini karena cacing dalam
perutku semakin banyak. Kau belikan aku obat cacing, tak ada perubahan. Tiap hari
saat kita bertemu, kau yang mengoleskan minyak untuk perutku. Berharap lekas
sembuh. Masih ada canda tawa menyertai. Sesekali kau bercerita tentang hal yang
konyol, aku tidak tertawa, kau marah lalu menciumku.
Semakin besar perut ini, semakin
besar pula ketidakhadiranmu disisiku. Kau bilang sibuk, banyak yang harus
dikerjakan. Aku memaklumi, apalagi saat kamar serba putih jadi tempat tidurku. Pernah
sekali kau datang membawakan bunga dan meninggalkan ciuman. Ternyata itu saat
terakhirku bertemu denganmu. Kau inginkan perpisahan ini terjadi. Apa yang kini
kurasakan, tak ada yang pergi lalu datang lagi, tak kudengar bibir manismu
menyanyi lagu-lagu kemesraan kita. Tak kurasa
lagi hangat peluk disini, tak ku dapat lagi belai kasih disini. Waktu terus
berlalu membawa diriku dalam suka dalam duka menangis dan tertawa, tak ku
dengar lagi suara tawa disini. Jauh sudah dari semua tentangmu. Ada bagian yang
hilang dalam hidupku.
![]() |
| sumber : Internet |



