Menulis Itu Rasa


Huft... lama banget aku enggak nulis disini setelah ketemu dengan aktifitas yang berjubel dan kecelakaan ringan yang membuatku tak mampu ketak ketik di depan nebhi-q tercinta. Apa yang buat aku mengeluh, karena aku tidak dapat nulis dengan sempurna. Update status dan nulis di note! Hanya mampu melakukan hal seperti itu. Pastinya lewat hape dengan satu tangan dan itu dilakukan dengan tidak langsung-maksudnya aku lebih banyak berhenti kemudian lanjut lagi. Uhm... sebenere bisa nulis di nebhi pake tangan kiri tapi sama aja tangan kananku ikut nyeimbangin, tetep kerasa pegel deh (curhat.com).

Sembuh dikit gini dweh maunya, padahal udah di warning ma orang rumah untuk tidak banyak aktifitas tangan, katanya sich biar enggak cacat wong belum waktunya untuk aktivitas penuh. Hehe,, tapi aku emang bandel... gatel rasanya kalo enggak nulis. Hiyah!!! Lagi-lagi ujungnya untuk nulis, gatel banget rasanya kalo enggak nulis (he,,). KOK BISA? Apa yang menyebabkan aku bisa gitu? “writing is my hobby” wow, kalo udah hobi emang susah buat ngempet yang satu ini.

Ada kertas kosong dikit aku tulisin, buku kosong juga aku tulisin, sampe akhirnya jadi pesenan teman-teman untuk menulis, sekedar untuk menghibur teman dan berbagi rasa. Nah ini ni... kalo udah sampe rasa emang jadi mak nyusss tenan. Ya! Bagiku menulis adalah RASA, ada manisnya ada asemnya ada pahitnya dan ada pula asinnya (ah kaya makanan aja). Memang sich,, setiap aku merasakan sesuatu yang sangat kuat, dari situlah inspirasi untuk menulis muncul. Oh no! Banyak godaan sich dan banyak juga yang memberikan semangat.

Godaannya antara lain;
Ide mampet di jalan
Semua penulis merasakan hal yang hampir sama (menurut survey di komunitas lini kreatif-writing) analisaku, karena manusia punya perasaan yang gampang banget berubah sewaktu-waktu dan bisa terjadi super cepat, so yang namanya mampet ide di tengah jalan bisa aja terjadi. Namun ide berjubel keluar itu yang bikin repot. Ah jadi ingat temanku Muji Sasmito, Lulusan Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini punya judul yang banyak hingga akhirnya dia punya ide untuk membukukan judul :D tapi aku salut dengannya, sudah lahir banyak tulisannya di media masa maupun media lain.
Tulisan yang enggak nyambung
Nah lo! Percaya atau enggak percaya kadang orang suka nulis bisa enggak nyambung tulisannya (karena belum di edit). Terkadang penulis akan mengedit karyanya setelah beberapa hari ia bekukan untuk bisa membaca kembali hasil karyanya atau penulis punya asisten untuk mengedit karyanya sehingga bisa terlihat apakah karyanya itu sudah enak dibaca/dirasakan atau belum. Nah, karena penulisnya ada yang ‘kaya aku’ jadi satu cerita tidak ditulis dalam satu waktu karena alasan klasik, dipanggil bos atau disuruh ortu mengerjakan sesuatu. Jadi penting banget sebelum di terbitkan kudu di baca ulang dan dikoreksi lagi ;).
Pesimis dengan apa yang ditulis
Wah... minder itu godaan yang aku alami “Mana tulisanmu? Masak kalah sama yang tua-tua sich...” jadi malu kalo ingat kata yang terucap dari Om2 Budi Maryono (penulis favorit+guru dari Semarang) setelah launching buku ‘grasshoper’ nya Pakdhe Wiwin WIntarto. Kalo udah gitu semangatnya muncul bagai api yang berkobar membara tapi giliran udah nulis nich, kubaca ulang dan aku malu dengan karyaku sendiri, tak seindah yang aku bayangkan. Minder kan? Pasti.. pesimis dengan karya sendiri. Padahal si Ahmed alias Sehrlock Holmes juga memberi aku semangat untuk nulis, ada juga teman-teman lain yang sampai memuji-muji karyaku tapi semangat itu hilang dengan begitu cepatnya tertutup rasa malu malu dan malu dannnn.... Om2 Bud ngomong lagi “Mosok penulis kok malu memamerkan karyanya, Yossi malu kamu juga gitu” duh... cambuk buat aku untuk fighting menulis. Tapi aku coba perlahan aja namun pasti.
Pacar enggak sehobi
Waduh!!! Ini juga salah satu cambuk untuk pinter-pinternya penulis memamerkan karyanya. Pacar enggak demen nulis yang akhirnya ngerasa di duakan dengan aktivitas menulisnya. Duh duh... berabe banget nich kalo gini caranya. Terkadang nyeletuk “apa kamu mau hidup dengan tulisan-tulisanmu itu?” emosional banget, tapi it’s time for fun, tulis aja keluh kesahnya ma kita, toh jika judulnya menyinggung atau menyangkut si doi pasti doi akan baca. Hehe,, itulah godaan-godaan yang membuat aku jadi kangen banget ma yang namanya nulis.

Dengan adanya semua kejadian yang aku alami aku yakin bahwa menulis itu rasa, rasa yang timbul dari pengalaman dan pengamalan kita baik lewat panca indera atau pun mengalami hal yang serupa. Yang pasti tetep enjoy and keep fight with writing. SEMANGAT MENULIS!
Senin, 26 September 2011
Posted by Zilian Zahra
Sepuluh hari berlalu penuh kenangan dan ketenangan. Dihati yg sepi kini menemukan seorang tambatan hati yang membujuk dan merayu agar aku mau menjadi temannya di dunia dan akhirat.
Tau enggak apa perasaanku? Bingung! Knp begitu, karena selama ini aku tak pernah berfikir dan berharap akan menjadi seorang ratu dalam kerajaannya. Duh, suatu hal yang akan menjadi tantangan buat aq nich.. But Kamis lalu aq menjawab "
Bismillah.. Jk Allah mengijinkan. Jk qt memang brjodoh. Jk niat qt udh tulus.
Ayo qt blajar memperbaiki diri unt bekal stlh akad" ah entah kalimat itu sesuai atau tidak, aku kirim kata-kata itu lewat balesan smsku waktu itu.
Subhanallah.. Betapa nikmat Ramadlan tahun ini, tidak hanya sekedar hadiah nikmat diberi kesehatan, tapi juga nikmat yang berlipat ganda dan lebih dari semuanya.
Thanks Allah to all the best 4 me. Begitu surpres, begitu spesial. Cause Allah is always by ourself, insya Allah.
Sabtu, 27 Agustus 2011
Posted by Zilian Zahra

Pagi yang Merindu

Hoi hoi hoi.... hmmm..... inilah pose-ku hari ini... narsis emang tapi itu belum cuci muka apalagi mandi. xixixi... semalam cuma tidur dua jam, itupun terjaga. selebihnya menjaga :D hlo kuq bisa? iya... semalam aku menggantika tugas El, temanku yang berhalangan untuk berangkat PAM PP di Stasiun Kereta Api Kota Pekalongan.

Lumayan, tadi malam membantu tiga penumpang KA yang mengalami kelelahan, Alhamdulillah bisa bantu orang lain. Nah pagi tadi nich... belum banyak kereta api yang lewat. tidak seperti tadi malam. jadi ya ni ada KA. Kaligung yang masih ngetem, aku pake buat background dech...

Rasanya ceria sekali, tanpa beban karena orang tua dan sang pujaan hati mengijinkan aku untuk tugas tadi malam. Tidak hanya tadi malam, tapi kegiatan ini nanti hingga tanggal 9 September 2011. Tidak hanya aku, bergantian dengan teman yang lain, namun termasuk aku mendapatkan piket malam disitu yang tidak hanya sekali.
Hmmm.... ijonya seger bukan? Pagi-pagi sudah disuguhi si Ijo yang mengingatkanku akan seseorang yang jauh disana. Ya! Kak Imung yang demen banget kalo naek kereta. Jadi kangen sama dia, aku adik yang jahat, kakaknya lagi susah mengerjakan skripsi, tapi aku tanpa daya untuk membantunya.
Yah... Sebenere aku pengen banget bantu... tapi harus gimana lagi? aku belum dapat pekerjaan disana... yang pasti aku tetap mengingat itu.

Lihat deh kereta api yang ini...
Rasanya stasiun ini tak pernah sepi akan manusia yang lalu lalang, serasa distasiun ini sampai-sampai tadi malam sempat menuliskan sesuatu.

Stasiun Pekalongan Dini Hari

Kerlap Kerlip penerang kegelapan
Menyala diantara jiwa-jiwa yang semu
Agaknya kursi-kursi masih saja menggerutu
Kapan ia bisa tenang tanpa beban

Penjaja makanan masih saja bertahan
Berlari ketika datang suara yang memekakan
yang memanggilnya dengan isyarat
Bukan menjauh namun bagi mereka ini rejeki

Stasiun Pekalongan dini hari
Tanpa beda ketika matahari ada
Semua masih memuja sang melodi besi
Sebagai penyambung nyawa insan merana

Stasiun Pekalongan dini hari
Tak pernah mati hiruk pikuk manusia
Bercampur deru mesin dan besi berpadu
Menjadi alunan musik penghilang sepi
Senin, 22 Agustus 2011
Posted by Zilian Zahra

Ramadlan Merdeka Penuh Cinta 17 17

Aku dan Qorin (adik perempuanku)
walau puasa dibawah terik tetep berpose

17 Agustus 2011 Masehi bertepatan dengan 17 Ramadlan 1423 Hijriyah, suatu kenikmatan yang belum pasti ditemui setiap tahun karena tanggal bisa sama sungguh sesuatu yang lebih dari kebetulan. Hikmah Nuzulul Qur'an, Hikmah Kemerdekaan dan juga Hikmah berada di sekeliling orang-orang tercinta. Banyak hal yang bisa di ambil dari perjalanan 17 17 ini.
Ada kesan bahagia menyelimuti jiwa dan raga
Menyusup hingga tak seorangpun dapat menerka
Hanya bisa mengandai-andai dan berharap
Tuhan Maha Tahu
Atas segala yang telah Ia berikan kepada Hamba-Nya
yang mau taat menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya
Tuhan Maha Pemurah
Ia berikan Purnama di tengah gelapnya dunia
Walau bagiku purnama tampak tak sempurna
Harapku dunia kita bisa saling menyempurnakan
Tuhan Maha Penyayang
Mengijinkan aku untuk menikmati manis
Manisnya berpuasa dan manisnya diliputi cinta
Sehingga tak terasa gundah dan lara

Terimakasih Yaa Rabb...
Jika Engkau selalu beri kenikmatan padaku
Jangan biarkan aku lalai mengingatmu
Jangan biarkan aku menduakan Cintamu
Karena kuingin mencintai-Mu
dengan mencintainya
Rabb... Ijinkan aku di Jalan-Mu
dengan seseorang yang Engkau anugerahkan kepadaku
Kelak...
Selamanya....
dan
Aku tak ingin dipisahkan
Jika kita sudah berada di alam kekal-Mu
untuk mengabdi pada-Mu Rabb...

Ungkapan bahagia bersambut dengan ketenangan jiwa. Berbeda dengan tahun lalu di saat hati sedang berkecamuk dan bergejolak. Ah namun semuanya adalah kenangan dan masa lalu. inilah buah dari pelajaran tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya.

Upacara Dirgahayu RI ke-66

MERDEKA karena Indonesia memperingati hari jadinya, ditengah puasanya jiwa dan raga masih mau bersikap nasionalisme untuk mengikuti upacara bendera. Teriknya tak dirasa karena nikmat dari Sang Esa terlebih selalu ditemani pujaan hati anugerah dari-Nya. Tak merasa jauh dan tak merasa sulit, semua terasa nikmat  hingga batu terjalan tak dirasa sangat. Hanya tersenyum dan belajar menerapkan sikap "legowo (menerima dengan ikhlas)". 17 17 Ramadlan merdeka dan penuh cinta.
Rabu, 17 Agustus 2011
Posted by Zilian Zahra

Mozaik Asmara Kembang Semusim


Di taman ini kembang bermekaran
Menampilkan warna-warni indahnya
Menyuguhkan aroma-aroma kerinduan
Kala itu
Di taman ini aku menikmatimu
Menemanimu saat sayup-sayup hati mendera
Menutup mata kala hitam mencekam
Kala itu
Asmara yang bermekaran
Bak kembang yang bertaburan
Membuat taman smakin menawan
                                                Kala itu
Di taman ini aku merindumu
Aroma khas yang membalutmu
Membuatku ingin selalu bersamamu
Menemanimu saat duka dan candamu
Kini...
Musim tlah berganti
Mozaik itu hanya tinggal kenangan
Bersama mimpiku yang hilang
Namun...
Indahnya tetap kurasa
Aromanya tetap kurindu
Terangmu slalu kutunggu
Oh... kembang semusim

Di taman ini kembang bermekaran
Menampilkan warna-warni indahnya
Menyuguhkan aroma-aroma kerinduan
Kala itu
Di taman ini aku menikmatimu
Menemanimu saat sayup-sayup hati mendera
Menutup mata kala hitam mencekam
Kala itu
Asmara yang bermekaran
Bak kembang yang bertaburan
Membuat taman smakin menawan
                                                Kala itu
Di taman ini aku merindumu
Aroma khas yang membalutmu
Membuatku ingin selalu bersamamu
Menemanimu saat duka dan candamu
Kini...
Musim tlah berganti
Mozaik itu hanya tinggal kenangan
Bersama mimpiku yang hilang
Namun...
Indahnya tetap kurasa
Aromanya tetap kurindu
Terangmu slalu kutunggu
Oh... kembang semusim
Rabu, 03 Agustus 2011
Posted by Zilian Zahra

Popular Post

- Copyright © Catatan Zilian Zahra -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -