"Bloof" melekat di hati
Akhirnya genaplah sudah hari ini setahun berdirinya Bloof (Blog Of Friendship), 15 November 2010 Blog ini berdiri dan merangkak dengan cepatnya sehingga sampai aku menulis postingan ini anggota Bloof mencapai 1480 orang dari berbagai belahan bumi Indonesia. Bahkan yang masih studi di luar Indonesia pun mereka antusias untuk ikut menjalin persahabatan disini.
Aku yang bukan termasuk anggota aktif juga tidak mau melewatkan momen yang bahagia ini. “Initial Zerro Alfa Hero” kujadikan facebook alternatif untuk bisa lebih intens berkomunikasi dengan anggota Bloof, kenapa tidak? Di Fb-ku yang sebelumnya terlalu penuh sehingga terkadang aku sulit membagi waktu untuk bisa menyapa atau sekedar mengeluarkan unek-unek di Bloof. Yah... walaupun terkadang mungkin komentarku tidak bermutu sehingga tidak ada yang menanggapi, sekarang bagiku bisa komunikasi dengan teman-teman Bloof adalah hal yang menyenangkan.
Tenggelam Perlahan
Langit benar-benar tak menyapa aku hari ini, mereka murung padaku. Mungkin karena aku tidak menyapa mereka lebih dahulu. Aku pikir hujan akan datang dengan penuh senyum yang dapat menghiburku. Namun hanya mendung yang menghiasi walau ia tak menyapa. Bagaimana aku bisa tersenyum jika mereka tak senyum padaku? Argh... kenapa sih begitu tingginya egoku ini. Mengalah bukankah lebih baik?
Iya! Mengalah hal yang terbaik, memulai melakukan hal-hal yang membuat mereka kembali tersenyum dan menyapaku tapi apakah ini ringan untukku? Aku merasa berat, karena ternyata separo diriku sudah masuk ke dalam telaga. Telaga ini masih dipenuhi dengan airmataku yang sempat tercurah sejak dua pekan yang lalu. Ini salahku pula, kenapa aku harus menangis? Tapi jika aku tidak menangis, pasti dadaku semakin menyesak dan mudah saja aku patahkan diriku.
Tidak! aku tidak mau serupa itu, aku harus berusaha bagaimana caranya aku bisa tidak tenggelam kembali. Aku coba walau perlahan, coba dan coba terus. Meminumnya.... Ufh... asin dan kecut! Memindahkannya dengan ember... ohh... begitu berat dan lama, telaga itu seluas samudera. Ah... harus aku apakan ini? tak terasa keringatku sudah menambah air itu, hingga hanya dari leher hingga kepalaku saja yang terlihat. Ingin mencoba menepi pula, namun ternyata aku berada jauh dari tepi, tak ada kapal, tak ada perahu ataupun sampan yang melintas hingga aku bisa dibawanya untuk keluar dari airku sendiri ini.
Lapaaaarrr... aku merasakan lapar, tak ada apapun yang bisa aku makan. Ikan dan sejenis yang hidup dalam air ini tak satupun tampak olehku, lapar semakin mendera aku tak tahu harus bagaimana. Aku masih punya semangat, semangat untuk tetap bertahan. Tak lama, sang surya muncul dengan bulatan membara, oh... teriknya melelehkan otakku. Rasanya kepala ini akan terpecah karena memuai.
Hidungku sudah sesak oleh air yang menggenangi diri, semakin panik dan semakin bingung. Ingin teriak namun mulutku sudah tak mampu lagi berucap. Aku rasakan sakit yang amat di kepalaku dan semua terasa gelap.
Hidungku sudah sesak oleh air yang menggenangi diri, semakin panik dan semakin bingung. Ingin teriak namun mulutku sudah tak mampu lagi berucap. Aku rasakan sakit yang amat di kepalaku dan semua terasa gelap.
Brebes, 14 November 2011
Ceritaku Tentang Blog dan Blogger
Hmmm... Hari ini adalah hari yang istimewa bagi para Blogger. Kenapa enggak? Blogger wajib bangga karena ada peringatan hari Blogger Nasional. Enggak sia-sia kan bagi yang suka nulis apa aja di blog ternyata dihargai. So, gak ada nyeselnya deh bagi para Blogger kalo terus ngemabngin bakatnya di bidang tulis menulis (jangan kaya aku yang suka males2an) hehe...
Negara Indonesia sendiri 'menurut saya' adalah negara yang masih demam dengan jejaring sosial yang biasa dikenal dengan sebutan facebook dan twitter. Minat mereka untuk nulis sangat minim, saya mengatakan seperti ini karena masih banyak sekolah formal yang tidak membiasakan siswa nya untuk menulis. Menulis yang saya maksudkan disini adalah menulis bebas, bukan pelajaran yang tinggal menyalin dari buku cetak ke buku catatan. Saya senang melihat siswa yang gemar menulis, walau tulisannya hanya untuk pribadi saja atau menulis tentang kehidupan pribadinya saja namun itu adalah sebuah prestasi bagi dia, karena dengan menulis melatih otak kita untuk cerdas dalam bahasa atau dikenal dengan nama Kecerdasan Linguistik. Semakin sering menulis semakin banyak kosakata yang dimiliki. Apalagi tulisan itu dipublikasikan.
Kamis, 27 Oktober 2011
Posted by Zilian Zahra
Menulis Itu Rasa
Huft...
lama banget aku enggak nulis disini setelah ketemu dengan aktifitas yang
berjubel dan kecelakaan ringan yang membuatku tak mampu ketak ketik di depan
nebhi-q tercinta. Apa yang buat aku mengeluh, karena aku tidak dapat nulis
dengan sempurna. Update status dan nulis di note! Hanya mampu melakukan
hal seperti itu. Pastinya lewat hape dengan satu tangan dan itu dilakukan
dengan tidak langsung-maksudnya aku lebih banyak berhenti kemudian lanjut lagi.
Uhm... sebenere bisa nulis di nebhi pake tangan kiri tapi sama aja tangan
kananku ikut nyeimbangin, tetep kerasa pegel deh (curhat.com).
Sembuh dikit
gini dweh maunya, padahal udah di warning ma orang rumah untuk tidak
banyak aktifitas tangan, katanya sich biar enggak cacat wong belum waktunya
untuk aktivitas penuh. Hehe,, tapi aku emang bandel... gatel rasanya kalo
enggak nulis. Hiyah!!! Lagi-lagi ujungnya untuk nulis, gatel banget rasanya
kalo enggak nulis (he,,). KOK BISA? Apa yang menyebabkan aku bisa gitu? “writing
is my hobby” wow, kalo udah hobi emang susah buat ngempet yang satu ini.
Ada
kertas kosong dikit aku tulisin, buku kosong juga aku tulisin, sampe akhirnya
jadi pesenan teman-teman untuk menulis, sekedar untuk menghibur teman dan
berbagi rasa. Nah ini ni... kalo udah sampe rasa emang jadi mak nyusss
tenan. Ya! Bagiku menulis adalah RASA, ada manisnya ada asemnya ada
pahitnya dan ada pula asinnya (ah kaya makanan aja). Memang sich,, setiap aku
merasakan sesuatu yang sangat kuat, dari situlah inspirasi untuk menulis
muncul. Oh no! Banyak godaan sich dan banyak juga yang memberikan semangat.
Godaannya
antara lain;
Ide
mampet di jalan
Semua
penulis merasakan hal yang hampir sama (menurut survey di komunitas lini
kreatif-writing) analisaku, karena manusia punya perasaan yang gampang banget
berubah sewaktu-waktu dan bisa terjadi super cepat, so yang namanya mampet ide
di tengah jalan bisa aja terjadi. Namun ide berjubel keluar itu yang bikin
repot. Ah jadi ingat temanku Muji Sasmito, Lulusan Fakultas Bahasa dan Sastra
Indonesia UNNES ini punya judul yang banyak hingga akhirnya dia punya ide untuk
membukukan judul :D tapi aku salut dengannya, sudah lahir banyak tulisannya di
media masa maupun media lain.
Tulisan
yang enggak nyambung
Nah lo!
Percaya atau enggak percaya kadang orang suka nulis bisa enggak nyambung
tulisannya (karena belum di edit). Terkadang penulis akan mengedit karyanya
setelah beberapa hari ia bekukan untuk bisa membaca kembali hasil karyanya atau
penulis punya asisten untuk mengedit karyanya sehingga bisa terlihat apakah
karyanya itu sudah enak dibaca/dirasakan atau belum. Nah, karena penulisnya ada
yang ‘kaya aku’ jadi satu cerita tidak ditulis dalam satu waktu karena alasan
klasik, dipanggil bos atau disuruh ortu mengerjakan sesuatu. Jadi penting
banget sebelum di terbitkan kudu di baca ulang dan dikoreksi lagi ;).
Pesimis
dengan apa yang ditulis
Wah...
minder itu godaan yang aku alami “Mana tulisanmu? Masak kalah sama yang tua-tua
sich...” jadi malu kalo ingat kata yang terucap dari Om2 Budi Maryono (penulis
favorit+guru dari Semarang) setelah launching buku ‘grasshoper’ nya Pakdhe
Wiwin WIntarto. Kalo udah gitu semangatnya muncul bagai api yang berkobar
membara tapi giliran udah nulis nich, kubaca ulang dan aku malu dengan karyaku
sendiri, tak seindah yang aku bayangkan. Minder kan? Pasti.. pesimis dengan
karya sendiri. Padahal si Ahmed alias Sehrlock Holmes juga memberi aku semangat
untuk nulis, ada juga teman-teman lain yang sampai memuji-muji karyaku tapi
semangat itu hilang dengan begitu cepatnya tertutup rasa malu malu dan malu
dannnn.... Om2 Bud ngomong lagi “Mosok penulis kok malu memamerkan karyanya,
Yossi malu kamu juga gitu” duh... cambuk buat aku untuk fighting menulis. Tapi
aku coba perlahan aja namun pasti.
Pacar
enggak sehobi
Waduh!!!
Ini juga salah satu cambuk untuk pinter-pinternya penulis memamerkan karyanya.
Pacar enggak demen nulis yang akhirnya ngerasa di duakan dengan aktivitas
menulisnya. Duh duh... berabe banget nich kalo gini caranya. Terkadang nyeletuk
“apa kamu mau hidup dengan tulisan-tulisanmu itu?” emosional banget, tapi it’s
time for fun, tulis aja keluh kesahnya ma kita, toh jika judulnya menyinggung
atau menyangkut si doi pasti doi akan baca. Hehe,, itulah godaan-godaan yang
membuat aku jadi kangen banget ma yang namanya nulis.
Sepuluh hari berlalu penuh kenangan dan ketenangan. Dihati yg sepi kini menemukan seorang tambatan hati yang membujuk dan merayu agar aku mau menjadi temannya di dunia dan akhirat.
Tau enggak apa perasaanku? Bingung! Knp begitu, karena selama ini aku tak pernah berfikir dan berharap akan menjadi seorang ratu dalam kerajaannya. Duh, suatu hal yang akan menjadi tantangan buat aq nich.. But Kamis lalu aq menjawab "
Bismillah.. Jk Allah mengijinkan. Jk qt memang brjodoh. Jk niat qt udh tulus.
Ayo qt blajar memperbaiki diri unt bekal stlh akad" ah entah kalimat itu sesuai atau tidak, aku kirim kata-kata itu lewat balesan smsku waktu itu.
Subhanallah.. Betapa nikmat Ramadlan tahun ini, tidak hanya sekedar hadiah nikmat diberi kesehatan, tapi juga nikmat yang berlipat ganda dan lebih dari semuanya.
Thanks Allah to all the best 4 me. Begitu surpres, begitu spesial. Cause Allah is always by ourself, insya Allah.
Tau enggak apa perasaanku? Bingung! Knp begitu, karena selama ini aku tak pernah berfikir dan berharap akan menjadi seorang ratu dalam kerajaannya. Duh, suatu hal yang akan menjadi tantangan buat aq nich.. But Kamis lalu aq menjawab "
Bismillah.. Jk Allah mengijinkan. Jk qt memang brjodoh. Jk niat qt udh tulus.
Ayo qt blajar memperbaiki diri unt bekal stlh akad" ah entah kalimat itu sesuai atau tidak, aku kirim kata-kata itu lewat balesan smsku waktu itu.
Subhanallah.. Betapa nikmat Ramadlan tahun ini, tidak hanya sekedar hadiah nikmat diberi kesehatan, tapi juga nikmat yang berlipat ganda dan lebih dari semuanya.
Thanks Allah to all the best 4 me. Begitu surpres, begitu spesial. Cause Allah is always by ourself, insya Allah.


