Kemukus Anggrek Layu
Tuhan, ijinkan aku mengukir rasa.
Dalam derasnya hujan yang menghalangi.
Dalam terjangan ombak di tengah laut.
Ketika mengarungi samudera kehidupan.
"Aku sudah nggak mau lagi ma kamu"
"Loh, kenapa? apa salahku?"
"Apa yang perlu kau tanyakan lagi, aku sudah tahu semua"
Dilla menyandarkan tangan pada keningnya-menangis. Pada susut dinding kamar, lengannya disandarkan.
[Bersambung]
Dalam derasnya hujan yang menghalangi.
Dalam terjangan ombak di tengah laut.
Ketika mengarungi samudera kehidupan.
"Aku sudah nggak mau lagi ma kamu"
"Loh, kenapa? apa salahku?"
"Apa yang perlu kau tanyakan lagi, aku sudah tahu semua"
Dilla menyandarkan tangan pada keningnya-menangis. Pada susut dinding kamar, lengannya disandarkan.
[Bersambung]
Gerhana Wanita
Sisi malam mana yang tak mengenalmu, duhai wanita.
Tiap kau sembunyi, parasmu memancarkan rahasia.
Kau tampak dalam batas maya.
Mengisi kehampaan pada jiwa yang hina.
Duhai wanita,
mengapa kau pilih jalan itu,
yang tak mampu memutar rupamu.
Hanya bisa membalutmu
dengan awan tebal hitam nan kelam.
Puisiku dibedah
![]() |
| Alhamdulillahi Robbil Alamien... semoga manfaat sertifikat ini ^^ |
Alhamdulillah,, usahaku selama ini mulai tampak ada pencerahan. Justeru berawal dari Grup Fesbuk, bukan seperti yang kuharapkan. Tapi ini adalah takdir, Allah memberikan ini jalan yang terbaik untukku. ini aku dapat dari Sahabat Musafir Pena.
Thanks Allah...
Kini aku semakin sadar, bahwa aku salah jika aku tidak bersyukur atas nikmat dari-Mu.
ini Kritik yang diberikan:
[KRITIK KARYA] Romantisme Kesepian dalam sajak Zilian
TRAGEDI DINI HARI
Apakah kau tahu bahwa aku menyesali jalan hidupku. Bagiku semua picik terhadap apa yang aku lakukan. Aku bukan boneka yang dapat kau permainkan sesuka hati. Aku bukan sahaya yang berharap belas kasih dari orang sepertimu. Bukan Kartini masa kini jika aku masih terpenjara di ketiakmu.
Adat Jawa membuatmu bangga menjadi lelaki. Kubilang itu kuno, bukan jamannya lagi wanita harus dibelakang. Untuk kau injak layaknya tak punya martabat. Kau bilang menjadi kuli itu berat, tiga puluh ribu rupiah sehari tak sebanding dengan tenaga yang kau gunakan. Apa kau pikir mudah dengan tiga puluh ribu itu untuk kita?. Lalu dengan apa kamu dan empat anakmu bisa makan enak dan sekolah tinggi? Kau tak pernah mau tempe, bukan?
Langkah Nestapa
Masih ada semburat cahaya
Bersarang diantara hati yang lara
Merintih namun tak ditemui suara
Menangis tak keluar airmata
Meradang tanpa menerjang kuasa
Kala lambaian tak nampak di mata
Hanya rasa yang mampu bicara
Kukirim edelweis penebus kata
Tak peduli badai merenggut sukma
Dan mayat tergulung nestapa
Asal untuk rembulan ada cahaya
Pasti diterjang pula Sang Gerhana
Karena kasih tak terbatas benua
Langkah mentari pengantar rimba
Hamparan sajak mulai terbaca
Inilah sebaris kasih dalam nada
Diiringi not-not yang mulai menjingga
Beserta hati yang kian di jeda
Dan asmara keemasan yang menua
Biarlah makna menggores asa
Pekalongan, 11 April 2012

