MATA RASAKU BERBICARA
"Kesetiaan itu sejengkal kesakitan yang menjamur, pengharapan tanpa ujung takdir. Ia tak terbatas waktu dan kepedihan masa. Namun hati tetap hati, perasaan tetap perasaan. Terkalahkan oleh lisan tak bertulang."Ketika film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diputarkan, ada kesan indah yang menusuk rasaku. Mata memandang lekat, dan rasaku berbicara. Bukan hanya sekedar tontonan kisah cinta dalam hidup, namun balutan realita kehidupan dikemas rapi.
Mata menari-nari menatap keindahan alam yang disuguhkan, sebelahku berbisik "bikin rindu ke alam bebas". Ku jawab dengan senyuman. Sisi kedaerahan minang yang muncul sangat lekat. Seolah menjadi turis di nusantara sendiri. Aku terus menikmati di setiap lekuknya. Tokoh utama si "Zainuddin" yang kehilangan orangtuanya di usia belia membuat dirinya ketika beranjak dewasa ingin mencari keluarga ayahnya di Padang. Dengan alasan ingin mengenal tanah kelalhiran ayahnya dan ingin belajar agama, dia diijinkan tinggal di Desa Batipuh di Padang.
Hariku di Akademi Berbagi
Aku merasa menjadi orang yang beruntung, dapat kesempatan mengikuti
kelas di Akademi Berbagi (di twitter: @akberpekalongan). Minggu, 15
Desember 2013 menjadi sejarah satu tahun kelahiran Akber di Pekalongan
sekaligus kali pertama saya bergabung. Ya, Rumah Makan Pande Rasa yang
tak jauh dari tempat tinggalku menjadi tempat kegiatan tersebut. Baru
kali ini aku menemukan kegiatan pendidikan outdoor yang aku impikan di
Pekalongan.
Bertemu dengan orang-orang hebat di Pekalongan dan bersama mengembangkan kemampuan itu yang ku impikan sejak lama. Setelah aku move on dari kegelapan duniaku dan keluar dari zona keterkungkungan pemikiran. Rasanya sangat segar sekali, namun ternyata otakku belum pulih. Sehingga daya tangkapku terhadap apa yang disampaikan kurang sempurna. Tapi aku tetap berusaha agar bisa maksimal.

Di hari ulang tahun ini, kelas diberi judul "Kreativitas Menembus Batas" yang diisi oleh 2 orang fasilitator hebat. Fasilitator yang pertama Pak Asep dari Radar Pekalongan. Sebagai siswa yang baru masuk, mendengarkan dan memperhatikan dengan baik adalah kebutuhan. Aku perlu mengenal dan mempelajari alur yang ada agar enggak salah masuk. Rasanya seperti refresh ilmu, bareng Pak Asep aku diberi penguatan tentang pengenalan potensi diri dan pengoptimalisasiannya. What! praktiknya aku butuh waktu dan menyepi. Ini materi berat bro! dikemas dengan santai. Kesimpulan dari pembahasan Pak Asep yang disampaikan Mbak Moderator adalah "Lebih baik melakukan satu hal seribu kali daripada melakukan banyak hal sekali."
Sebelum lanjut ke sesi kedua, ada ice breaking yakni goyang caesar, tapi aku enggak ikut. Nerveous n gak pede banget. Padahal itu kan nggak boleh, tapi aku nekat.
Fasilitator kedua yakni dari owner "goedang kaos" Pekalongan, Mas Teguh. Bagiku, dia super sekali menceritakan proses kehidupan dia hingga sekarang seorang desainer ini mengelola "goedang kaos" dan "OMAHalit interior". Perjuangan yang hebat dan banyak trik yang diberikan mas Teguh dalam pembahasan Kreativitas Menembus Batas.
Di akhir, banyak bingkisan dan hadiah yang diberikan dari kelas ini. Yap! seperti kelas-kelas yang aku impikan ada di Kota Pekalongan dan sekarang ada. Wah, jadi gemes buat semakin belajar lagi.
Bagi teman-teman yang belum kenal dengan Akademi Berbagi di Pekalongan, silahkan follow twitternya @akberpekalongan atau bukan blognya di http://akberpekalongan.wordpress.com/
Bertemu dengan orang-orang hebat di Pekalongan dan bersama mengembangkan kemampuan itu yang ku impikan sejak lama. Setelah aku move on dari kegelapan duniaku dan keluar dari zona keterkungkungan pemikiran. Rasanya sangat segar sekali, namun ternyata otakku belum pulih. Sehingga daya tangkapku terhadap apa yang disampaikan kurang sempurna. Tapi aku tetap berusaha agar bisa maksimal.

Di hari ulang tahun ini, kelas diberi judul "Kreativitas Menembus Batas" yang diisi oleh 2 orang fasilitator hebat. Fasilitator yang pertama Pak Asep dari Radar Pekalongan. Sebagai siswa yang baru masuk, mendengarkan dan memperhatikan dengan baik adalah kebutuhan. Aku perlu mengenal dan mempelajari alur yang ada agar enggak salah masuk. Rasanya seperti refresh ilmu, bareng Pak Asep aku diberi penguatan tentang pengenalan potensi diri dan pengoptimalisasiannya. What! praktiknya aku butuh waktu dan menyepi. Ini materi berat bro! dikemas dengan santai. Kesimpulan dari pembahasan Pak Asep yang disampaikan Mbak Moderator adalah "Lebih baik melakukan satu hal seribu kali daripada melakukan banyak hal sekali."
Sebelum lanjut ke sesi kedua, ada ice breaking yakni goyang caesar, tapi aku enggak ikut. Nerveous n gak pede banget. Padahal itu kan nggak boleh, tapi aku nekat.
Fasilitator kedua yakni dari owner "goedang kaos" Pekalongan, Mas Teguh. Bagiku, dia super sekali menceritakan proses kehidupan dia hingga sekarang seorang desainer ini mengelola "goedang kaos" dan "OMAHalit interior". Perjuangan yang hebat dan banyak trik yang diberikan mas Teguh dalam pembahasan Kreativitas Menembus Batas.
Di akhir, banyak bingkisan dan hadiah yang diberikan dari kelas ini. Yap! seperti kelas-kelas yang aku impikan ada di Kota Pekalongan dan sekarang ada. Wah, jadi gemes buat semakin belajar lagi.
Bagi teman-teman yang belum kenal dengan Akademi Berbagi di Pekalongan, silahkan follow twitternya @akberpekalongan atau bukan blognya di http://akberpekalongan.wordpress.com/
DIRI INGIN TAPI TAK MUNGKIN
Aku mengenal Bloof dan
Bloofers... entah di bulan apa, yang jelas sudah bertemu dengan dua kali puasa. Awalnya baru seratus sekian sekarang anggota Bloof sudah di angka tigaribuan. Sayang sekali aku nggak intens ngikutin sejak dunia nyata menuntutku untuk fokus. Walaupun perayaan Idul Adha yang lalu sudah kurasakan nafas-nafas bersama
Bloofers... hingga pernah salah satu Bloofers (Mbak Pipi Fitriani) yang punya
saudara di daerahku dan berniat untuk ketemu. Allah berkehendak lain, kita
tidak dipertemukan. Karena waktu itu aku sedang tidak dirumah.
Seiring berjalannya waktu
kegiatan Kopdar seringkali dilakukan oleh Bloofers di berbagai daerah. Liur ini
menetes jika mendengarnya. Para Bloofers bertemu, berkumpul, dan saling
menjalin silaturahim. Diri ini rasanya ingin ikut gabung, entah dimanapun
berada.
Kota Pekalongan, tempat ku
dilahirkan dan dibesarkan merupakan daerah minoritas Bloofers. Jika harus ke
luar daerah yang jaraknya jauh, aku harus berpikir sebanyak mungkin dan
berusaha keras untuk menuju kesana. Yap! Aku mungkin adalah seorang yang telat. Hidup di daerah kecil dengan pendapatan yang dibawah rata-rata memang membuat aku harus menunggu hingga terkumpul sejumlah nominal. Namun, ketika sudah terkumpul, di Bloof sudah rame yang lain. Huft... ketinggalan dwech... :(
Diri ini ingin, tapi tak mungkin. Kaos ini, entah akhirnya bagaimana... bagiku lebih baik enggak nyimak daripada nyimak jadi galau.
Kaos Jabodetabek ini... bikin aku iri... aku yang notabene suka warna ungu jadi demen (ketika itu) mandeng gambar ini. hehehe...
"Jumper" ini... aku suka gambar belakangnya, walau dengan warnanya aku ngerasa biasa saja. ehehehe...
Inilah indah dan semaraknya Bloof... all about Bloof tersaji... sampai Mug, pin, dan ganci... bisa-bisa esok daypack dan ransel juga made in Bloof... hihihi...
Hadirnya buku karya Bloof juga kulewatkan, aku merasa masih banyak tulisan yang jelek. Baik kusimpan saja tulisan jelekku. Daripada malu-maluin,, hehe...
Motivasi terbesarku kembali menuliskan tentang Bloof dan Bloofers adalah, Aku rindu semuanya. Walau diri ini ingin tapi tak mungkin. Aki Todi yang suka aku rebut sarungnya kalo lagi ngeronda (Upz!), Onii-Can yang suka aku gangguin, Pak Ridwan Purnomo yang demen nulis, Mbak Rumi yang tak pernah lelah kasih aku motivasi, Mbak Nick dan kawan-kawan lain yang aku lewatkan hari pernikahannya yang istimewa, Yuni yang (kadang-kadang) masih suka kusapa. dannn.... Argh! Semuanya... udah ah,, Nothing is impossible for me! (ZZ)
Diri ini ingin, tapi tak mungkin. Kaos ini, entah akhirnya bagaimana... bagiku lebih baik enggak nyimak daripada nyimak jadi galau.
Kaos Jabodetabek ini... bikin aku iri... aku yang notabene suka warna ungu jadi demen (ketika itu) mandeng gambar ini. hehehe...
"Jumper" ini... aku suka gambar belakangnya, walau dengan warnanya aku ngerasa biasa saja. ehehehe...
Inilah indah dan semaraknya Bloof... all about Bloof tersaji... sampai Mug, pin, dan ganci... bisa-bisa esok daypack dan ransel juga made in Bloof... hihihi...
Hadirnya buku karya Bloof juga kulewatkan, aku merasa masih banyak tulisan yang jelek. Baik kusimpan saja tulisan jelekku. Daripada malu-maluin,, hehe...
Motivasi terbesarku kembali menuliskan tentang Bloof dan Bloofers adalah, Aku rindu semuanya. Walau diri ini ingin tapi tak mungkin. Aki Todi yang suka aku rebut sarungnya kalo lagi ngeronda (Upz!), Onii-Can yang suka aku gangguin, Pak Ridwan Purnomo yang demen nulis, Mbak Rumi yang tak pernah lelah kasih aku motivasi, Mbak Nick dan kawan-kawan lain yang aku lewatkan hari pernikahannya yang istimewa, Yuni yang (kadang-kadang) masih suka kusapa. dannn.... Argh! Semuanya... udah ah,, Nothing is impossible for me! (ZZ)
SABTU MALAM, KALA ITU
Hai! ini Sabtu malam bukan? Apakah kau mengingatnya?
Ketika kau genggam tanganku, seolah tak ingin ku pergi jauh darimu.
Wajahmu berseri, ketika aku batal untuk pergi malam itu.
Kau juga memelukku malam itu.
Disaksikan bulan yang malu-malu, juga sofa hitam di depan kamarku.
Dudukmu tak berjarak denganku.
Hey, kita menghabiskan malam bersama.
Argh! aku pikir ini hanya lelucon kita.
Yang diam-diam menjadi sebuah rasa yang nyata.
Katamu kau sayang aku, kau cium keningku sebagai bukti.
Lalu kau katakan "jika aku mencium bibirmu, itu baru nafsu".
Tak ragu, kau lelaki pandai berkata. Aku suka rayumu.
Berapa kali kau luncurkan ciumanmu ke mukaku, kecuali bibir.
Namun aku berhasil berkilah. Hahaha!
Kenapa kau tak henti-hentinya mencari celah untuk dapat menciumku?
Memelukku juga berbicara tentang kita.
Aku suka kau,
Kau lelaki normal. Aku tidak akan melarangmu berbuat sesuatu
yang kau anggap itu bukti sayangmu padaku.
Tapi aku heran, bukankah kita tidak pernah dekat?
Akupun tidak pernah menunjukkan gaya erotisku di depanmu.
Ah kau lelaki aneh!
Kau baru mengenalku, itupun di sela-sela istirahatmu.
Mengapa kau bisa berkata sayang kepadaku?
Apa kau pikir aku pelacur? Sehingga dengan dalih tanpa nafsu kau menjamahku.
Argh... kadang emosiku tidak terkontrol begini.
Tidak! aku yakin kau tulus. Lewat rasa yang pertama.
Upz... kau juga bilang aku wanita aneh.
Mudah tidur dimanapun, tempat terbuka sekalipun.
CERIA BERSAMA PMR SMP 2 PURBALINGGA
Kamis, 6 Juni 2013. Aku pikir akan berhenti sampai SMP Istiqomah Sambas, ternyata mendapat kesempatan lagi bertemu dengan anak-anak PMR yang kreatif. SMP 2 Purbalingga, sekolah yang tidak jauh dari Markas PMI Kab. Purbalingga membuat aku banyak belajar tentang PMR. Ada hal yang membuat aku merasa harus belajar lebih giat lagi, belajar tentang banyak hal yang seharusnya sudah aku pelajari sejak lama, namun karena lama pula tidak aku pelajari, sehingga lupa datang menyergap.
Aku menuju SMP 2 Pbg dengan Agus, apa yang ada di sana membuat aku minder dengan kemampuanku. kemampuan minimal di PMI yang aku punya tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka untuk persiapan Jumbara PMI Kab. Purbalingga. Pada LCT, aku tidak menguasai pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan muncul pada LCT. Untung saja Mela, Indri, dan Siska anak yang istimewa. Mereka mau belajar walaupun sudah aku persilahkan untuk istirahat.
Anak hebat lagi aku temui pada diri Dede dan Syam, mereka mudah memahami setiap apa yang sudah pernah disampaikan. Mereka juga mau terbuka mengenai kekurangan mereka, dan tidak malu.
Pengalaman singkat ini, aku mendapat kesempatan juga untuk mengenal sekolah walaupun hanya sebentar.






